HTI Angkat Suara soal Pembubaran di Aksi Bela Ulama 96

Andika Putra, CNN Indonesia | Jumat, 09/06/2017 15:33 WIB
Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan lembaga itu meminta dukungan kepada masyarakat lantaran pemerintah berencana membubarkan organisasi tersebut. Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan lembaga itu meminta dukungan kepada masyarakat lantaran pemerintah berencana membubarkan organisasi tersebut. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Umum DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Rokhmat S. Labib berorasi pada Aksi Bela Ulama (ABU) 96 di halan Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Dalam orasinya dia meminta dukungan untuk HTI lantaran pemerintah berencana membubarkan organisasi tersebut.

"Ada tiga sumber kekuatan Islam, yaitu Islam, ulama dan khilafah. Orang kafir tahu itu yang jadi sumber umat Islam, maka mereka berusaha keras untuk hancurkan tiga sumber tadi," kata Labib saat orasi, Jum'at (9/6).

Labib menjelaskan saat ini marak terjadi kriminalisasi. Menurutnya kriminalisasi adalah mencari-cari kesalahan yang saat ini terjadi pada ulama dan organisasi islam.
Ia menegaskan bahwa saat ini masih banyak ulama dan organisasi yang siap memerjuangkan khilafah. Labib meminta peserta untuk melawan bersama bila pembubaran HTI benar terjadi.


"Organisasi yang perjuangkan Islam dan perjuangkan khilfah akan dibubarkan. Apa Anda akan diam? Apa Anda siap melawan? Takbir," kata Labib.

Diketahui, pemerintah menyatakan pembubaran HTI karena dianggap bertentangan dengan konstitusi dan Pancasila. Namun, organisasi itu akan melawan sikap pemerintah itu dengan melawannya di jalur hukum. HTI sendiri didampingi oleh pengacara senior Yusril Ihza Mahendra.

Mayoritas Menolak

Hasil survei Saiful Mujani Research And Consulting (SMRC) sebelumnya mengungkap mayoritas masyarakat menolak kehadiran kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) serta Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Dalam survei itu disebutkan, mayoritas Warga Negara Indonesia (WNI) menolak keberadaan dua organisasi yang disebut-sebut ingin mengubah kedaulatan negara. Bahkan mayoritas warga Indonesia setuju dengan rencana pembubaran dari pemerintah.
Direktur SMRC Saiful Mujani menyampaikan, survei yang melibatkan seluruh WNI di berbagai tempat itu menggunakan sejumlah pertanyaan terkait kebanggaan mereka menjadi WNI sebelum mengarah ke pengetahuan seputar ISIS dan HTI.

Dari pertanyaan yang dilontarkan, sebanyak 62,5 persen responden merespons sangat bangga menjadi WNI dan 36,5 persen menjawab cukup bangga. Terkait loyalitas kepada bangsa, sebanyak 26,9 responden menjawab sangat bersedia, dan 57,6 persen menjawab bersedia.