Pelaku Penusukan Brimob Simpatisan ISIS dan 'Lone Wolf'

Joko Panji, CNN Indonesia | Senin, 03/07/2017 05:11 WIB
Pelaku Penusukan Brimob Simpatisan ISIS dan 'Lone Wolf' Dua anggota Brimob menjadi korban penikaman di Masjid Falatehan yang berada di dekat Lapangan Bhayangkara Mabes Polri, sementara pelaku yang berusaha melarikan diri berhasil dilumpuhkan petugas. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepolisian menduga, pelaku penyerangan personel Brimob, yakni Mulyadi (28) merupakan simpatisan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Mulyadi diduga bertindak sendiri alias lone wolf terrorism diluar struktur jaringan teroris tersebut.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Rikwanto mengatakan, Mulyadi diduga tidak tergabung dalam kelompok-kelompok jaringan teroris yang ada di Indonesia.

“Bila dilihat dari keterangan saksi dan barang bukti yang ada, diduga Mulyadi merupakan simpatisan ISIS secara unstruktur. Mulyadi melakukan aksi terornya secara lone wolf,” ujar Rikwanto dalam pesan singkat, Minggu (2/7).


Rikwanto menerangkan, Mulyadi yang tewas ditembak usai melakukan penyerangan diduga mendeklarasikan diri secara personal mendukung ISIS akibat materi-materi bermuatan radikal yang ada di media sosial, serta di grup-grup aplikasi pesan online seperti telegram.

Mulyadi ditengarai meyakini segala propaganda yang dilakukan oleh ISIS melalui media sosial, seperti melakukan penyerangan terhadap personel Polri dengan cara menusuk dan kemudian merebut sejatanya.

Mulyadi diduga menilai penyerangan terhadap personel Kepolsian bagian dari amaliyah.

“Mulyadi merupakan simpatisan ISIS yang terkooptasi radikal dari materi-materi yang diunggah pada website radikal maupun group messenger radikal yang diikutinya,” ujarnya.

Fakta Hasil Pemeriksaan Saksi

Rikwanto membeberkan, Mulyadi mulai tertarik bergabung dengan ISIS sejak tahun 2016. Hal itu berdasarkan keterangan Zulkifli, selaku rekan indekos Mulyadi pada tahun 2014 dan Angga, selaku rekan SMA Mulyadi.

Keduanya menerangkan, Mulyadi pernah memperlihatkan materi mengenai ISIS, jihad, hingga berencana ke Filipina Selatan untuk mati syahid.

“Di mana konten-konten tersebut diketahui diperoleh oleh Mulyadi melalui website maupun group messenger radikal,” ujar Rikwanto.

Sementara itu, hasil pemeriksaan Hendriyanto, selaku kakak ipar Mulyadi juga diketahui bahwa senjata tajam yang digunakan Mulyadi menyerang personel Brimob di Masjid Falatehan, Jakarta, Jumat (30/6), dibeli dari layanan jula beli online bukalapak.com.
 
“Sekitar 3 bulan lalu (Hendrityanto) mengetahui mengenai pembelian sangkur oleh Mulyadi melalui online shop,” ujar Rikwanto.
 
Lebih dari itu, Rikwanto mengklaiam, Kepolisian tengah menelusuri sejumlah barang bukti digital yang ditemukan di tempat kejadian perkara. Kepolisian juga belum menemukan adanya koneksi langung antara Mulyadi dengan jaringan ISIS.

Pada Jumat pekan lalu, polisi menembak mati Mulyadi, pelaku penikaman terhadap dua anggota Brimob usai menunaikan salat isya di Masjid Falatehan.

Korban penikaman, yakni AKP Dede Suhatmi dan Briptu M. Syaiful Bakhtiar, saat itu salat di saf ketiga dalam masjid.

Usai menikam korban, pelaku langsung melarikan diri ke arah Terminal Blok M. Ketika dalam pengejaran oleh anggota Brimob lain, pelaku diduga berbalik melawan sehingga ditembak oleh petugas. Pelaku tewas akibat luka tembak di kepala dan dada.