Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia dan sebenarnya berakar dari Timur Tengah, kawasan asal-muasal kelompok teror itu sendiri. Sebelum meninggal dunia, juru bicara ISIS Al Adnani pada pertengahan tahun lalu memerintahkan semua anggota, simpatisan, di mana pun untuk bisa melakukan aksi teror dengan cara apa pun, bahkan jika hanya mampu menggunakan pisau dapur.
Terbukti, sejumlah serangan di dunia baru-baru ini dilakukan dengan sederhana. Jika tidak dengan pisau, maka mereka menggunakan mobil untuk menabraki para korbannya. Dua alat yang mereka jadikan senjata itu, jelas, dapat diperoleh jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan bahan peledak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Mendagri: Serangan ke Polisi, Melawan Negara |
Dua anggota Brimob menjadi korban penikaman di Masjid Falatehan yang berada di dekat Lapangan Bhayangkara Mabes Polri. (Antara/Sigid Kurniawan) |
"Ancaman lebih tinggi ini dari sisi momentum, karena lebih sulit diprediksi kapan dan di mana serangan itu akan terjadi. Seperti yang kemarin di Blok M juga kan sedang solat ditusuk," kata Ridlwan, merujuk pada penusukan di Masjid Falatehan, tepat di seberang Markas Besar Polri, Jakarta, Jumat pekan lalu.
Pelaku menyerang dengan menusuk dua anggota Brimob usai salat Isya. Kedua anggota bernama Ajun Komisaris Dede Suhatmi dan Brigadir Satu M Syaiful Bakhtiar saat itu tengah salat di saf ketiga dalam masjid.
Menurut pengamat terorisme dari Community Of Ideological Islamic Analyst, Harits Abu Ulya, serangan semacam itu, meski bisa dilakukan oleh semua orang, tetap saja tidak akan dilakukan oleh orang-orang biasa.
[Gambas:Video CNN]
"Tidak cukup hanya punya pisau dapur, gunting atau silet kemudian seseorang bisa lakukan teror kapan saja. Tapi juga ada faktor niat, kenekatan dan situasi yang melingkupi, artinya faktor internal dan eksternal individu," ujarnya lewat pesan singkat.
Dia pun merujuk pada perintah dari pimpinan ISIS untuk melakukan aksi di mana pun dan melakukan perang terbuka atau serangan-serangan terbatas seperti bom bunuh diri atau serangan lain.
"Karena pada prinsipnya, keterbatasan itu bukan halangan untuk melakukan aksi serangan," kata Harits. "Maka pilihannya adalah dengan menggunakan apa yang ada dan bisa mereka pakai."
"Meskipun hanya dengan silet, kalau memang punya niat, kenekatan dan kesempatan plus militansi, maka semua bisa terjadi," kata Harits.
Yang membuat ancaman ini semakin berbahaya adalah kelompok teror tidak lagi pilih-pilih dalam merekrut anggotanya. Dapat dikatakan, para teroris ini membuka usaha waralaba tanpa syarat agar siapapun bisa melakukan aksi atas nama ISIS, dan kelompok itu bisa langsung mengklaimnya meski tidak ada hubungan langsung dalam rantai komando.
Contohnya, kata dia, Bahrun Naim baru-baru ini membuat panduan membuat ranjau lewat Telegram. Informasi yang dibagikan tokoh dibalik serangan teror Thamrin itu pun bisa dengan mudah disebar ke publik.
"Ini baru minggu lalu. Harus daftar dulu tapi siapapun, asal punya kemauan, pasti bisa bergabung." ujar Ridlwan.
Dua anggota Brimob menjadi korban penikaman di Masjid Falatehan yang berada di dekat Lapangan Bhayangkara Mabes Polri. (Antara/