Kerusuhan di Puncak Jaya Akibat Provokasi Elite

Dika Dania Kardi, CNN Indonesia | Selasa, 04/07/2017 04:58 WIB
Kerusuhan di Puncak Jaya Akibat Provokasi Elite Seorang pendukung pasangan calon (paslon) Bupati dan Wakil Bupati Puncak Jaya memegang panah saat bertikai dengan massa pendukung paslon lainnya , di Mulia, Puncak Jaya, Papua, Minggu (2/7). Pertikaian langsung terjadi selama 10 jam lebih saat itu. (Antara Foto/Indrayadi TH)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kerusuhan antar pendukung pasangan calon pemilihan kepala daerah Puncak Jaya terjadi di Mulia, Papua, Minggu (2/7) lalu.

Akibat kerusuhan tersebut para warga terpaksa mengungsi ke Markas Polres Puncak Jaya di Mulia. Setidaknya, hingga berita ini ditulis sebanyak 50 warga harus mengungsi.

Kapolda Papua Irjen Polisi Boy Rafli Amar memastikan pertikaian yang terjadi di Mulia, ibu kota Kabupaten Puncak Jaya itu, akibat provokasi elite politik yang memanfaatkan masyarakat.


Menurut Boy, para elite politik telah memberikan pendidikan yang tidak bagus kepada masyarakat dan mereka dieksploitasi.

"Saya sangat menyayangkan dan menyesalkan karena yang menjadi korban adalah masyarakat sehingga telah memerintahkan Kapolres Puncak Jaya untuk menindak tegas aksi tersebut," kata Boy Rafli kepada wartawan di Jayapura, Senin (3/7) seperti dikutip dari Antara.

Hasil pilkada di Mulia masih diproses Mahkamah Konstitusi. Boy menduga para pendukung pasangan calon kepala daerah Puncak Jaya yang memprovokasi dan menyerang kelompok lainnya sudah memiliki gambaran tentang hasil pilkada sehingga melakukan aksi tersebut. 

Boy melanjutkan, pada Selasa (4/7) dirinya akan ke Mulia untuk melihat situasi dan kondisi terkini di daerah tersebut.

Aksi saling serang dengan menggunakan senjata tradisional terjadi di Mulia, akhir pekan lalu, yang menyebabkan 20 orang terluka, satu meninggal, dan 15 honai (rumah adat) dibakar.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Ahmad Kamal mengatakan sekitar 50 warga mengungsi ke Mapolres Puncak Jaya untuk menghindari hal yang tak diinginkan.

Secara keseluruhan situasi kamtibmas di Mulia sudah dapat dikendalikan, namun hal itu tidak bisa dipastikan mengingat masih ada kelompok pendukung salah satu pasangan calon yang terus berupaya menyerang kelompok lain.

Ahmad menjelaskan, kasus yang terjadi di Mulia itu merupakan dampak dari hasil pilkada yang melibatkan pendukung calon kepala daerah yang bertarung. Para pendukung itu saling menyerang dengan menggunakan senjata tradisional seperti panah.

Pilkada di Kabupaten Puncak Jaya diikuti tiga pasangan calon bupati dan wakil bupati yakni no urut 1 paslon Yustus Wonda-Kirenius Telenggen, Hanock Ibo-Rinus Telenggen dan Yuni Wonda-Deinas Geley.