"Benchmark di setiap negara rata-rata antara Rp12 ribu sampai Rp 13ribu. Kita ini tergantung, bisa lebih bisa kurang. Lalu tergantung pemerintah Jakarta," kata Direktur Operasi dan Pemeliharaan MRT Jakarta Agung Wicaksono, Rabu (5/7).
Menurut Agung, penentuan harga tiket akan dilakukan oleh pemerintah daerah (Pemda). Apabila manajemen mengusulkan harga tiket Rp 13ribu per penumpang namun dirasa terlalu mahal, maka Pemda akan menindaklanjutinya dengan memberikan subsidi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menegaskan, harga tiket MRT tidak mempertimbangkan harga tiket moda transportasi lain yang sudah lebih dahulu ada, yakni Transjakarta dan Commuterline Jabodetabek.
Ia mengharapkan nantinya bus Transjakarta akan menjadi feeder atau pengumpan bagi MRT. Otomatis akan semakin banyak orang tertarik menggunakan MRT. Agung menambahkan, semakin banyak jumlah penumpang, maka harga tiket akan semakin rendah.
Menurutnya, perlu ada kebijakan transportasi yang terintegrasi dengan moda transportasi lain untuk mendukung MRT sebagai moda utama. Ia mengibaratkan MRT sebagai batang pohon, sedangkan moda transportasi lain termasuk bus Transjakarta sebagai feeder atau cabang.
"Kenapa MRT jadi trunk? Karena dia yang bisa mengangkut banyak orang. Tujuan kita kan memobilisasi orang, maka kita pilih moda transportasi yang bisa mengangkut banyak orang. LRT tidak bisa sebanyak kita atau busway tetap ada keterbatasan," tandasnya.