Menteri Susi Tak Ingin Lagi Lelah karena Cantrang

Tiara Sutari, CNN Indonesia | Senin, 10/07/2017 12:41 WIB
Menteri Susi Tak Ingin Lagi Lelah karena Cantrang Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengklaim tak ingin menguras energi terlalu berlebih menghadapi polemik larangan penggunaan cantrang. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyebut tidak ingin lagi menguras energi hanya untuk mengurus polemik larangan salah satu penggunaan alat tangkap perikanan yaitu cantrang.

Susi menyatakan, energinya akan habis jika terus-menerus mengurus alat tangkap yang penggunaanya dilarang bagi nelayan Indonesia sejak 2015 lalu itu.

"Energi bisa habis, Pak Presiden juga sudah bilang jangan terus-terusan urusi (cantrang)," kata Susi saat memberikan sambutan pada acara halalbihalal di Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Senin (10/7).


Larangan penggunaan cantrang ini, menurut Susi seharusnya sudah tidak menjadi masalah di antara nelayan Indonesia. Sebab, kata dia, larangan itu pun sudah diterapkan lama, yakni sejak menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan.

"Sudah dari 2015, sudah lama. Tidak usah menjadi polemik lagi," kata Susi.

Cantrang sendiri merupakan alat tangkap ikan yang sudah digunakan oleh nelayan Indonesia lebih dari 30 tahun lalu. Alat tangkap ini dilengkapi dua tali penarik yang cukup panjang yang dikaitkan pada ujung sayap jaring.

Bagian utama dari alat tangkap ini terdiri dari kantong, badan, sayap atau kaki, mulut jaring, tali penarik (warp), pelampung dan pemberat.

KKP melarang alat ini digunakan melalui Peraturan Menteri Nomor 2/PERMEN-KP/2015. Alasan pelarangan adalah alat tangkap tersebut termasuk dalam alat tangkap yang dapat merusak habitat ikan.

Tak hanya lewat Permen, pelarangan alat tangkap tersebut pun diperkuat pada 2016 silam lewat Surat Edaran Nomor 72/MEN-KP/II/2016.

Susi menegaskan, setiap kebijakan yang dia keluarkan selama ini sepenuhnya untuk kepentingan perikanan Indonesia. Bahkan dia mengklaim, sejak pelarangan cantrang diterapkan, banyak nelayan-nelayan kecil kini bisa mendapat tangkapan perikanan yang lebih besar.

"Nilai tukar nelayan meningkat, tapi memang setiap kebijakan apapun pasti ada yang setuju dan tidak, saya maklumi saja," kata Susi.

Susi Klaim Tak Ingin Kuras Energi Lagi Pada Polemik CantrangNelayan merapikan alat tangkap Cantrang tradisional khusus kepiting dan lobster di Pesisir Pantai Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu. (ANTARA FOTO/Darwin Fatir)
Di lain pihak, salah satu Nelayan asal Tegal, Bambang Wicaksono menyebut larangan cantrang justru sangat merugikan nelayan Indonesia. Bambang menyebut larangan cantrang lebih banyak memberatkan nelayan. Dia juga mengklaim di wilayahnya banyak nelayan yang berhenti melaut setelah larangan tersebut diberlakukan.

"Tidak, di sini (Tegal) banyak nelayan yang tidak bisa melaut, cantrangnya dilarang tapi tidak ada penggantian," kata Bambang saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Senin (10/7) ini.

Bambang menyebut, pihaknya sama sekali tak berniat menolak kebijakan yang dikeluarkan Menteri perempuan asal Pangandaran itu. Namun, menurut dia kebijakan itu seharusnya diiringi pula dengan solusi yang tepat.

"Harus ada solusi. Solusinya tidak cuma di mulut atau atas kertas saja, tapi solusinya harus sudah ada, sudah harus berjalan. Tidak membuat nelayan terbengkalai," kata Bambang. (kid/kid)