Monas, Gereja dan Segala Kenangan Buruk tentang FPI

Priska Sari Pratiwi, CNN Indonesia | Jumat, 18/08/2017 14:00 WIB
Korban kekerasan FPI menceritakan peristiwa yang menimpa. Dari Insiden Monas pada 2008 hingga Gereja Filadelfia pada 2012. Kini, FPI justru kian politis. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Mar, aku berdarah! Tolong Mar, tolong, aku di dekat gedung Indosat.”

Suara lewat sambungan telepon itu membuat Mariana Amiruddin panik. Mariana yang tengah ikut aksi damai peringatan hari Pancasila di kawasan Monas, Jakarta Pusat, bergegas meninggalkan kerumunan. Ia segera mendatangi Guntur Romli, pria yang tadi menghubunginya lewat sambungan telepon.

Hidungnya patah. Darah bercucuran di sekitar wajah.


Guntur mengaku terkena pukulan bambu oleh sekelompok orang berjubah putih. Mariana bersama sejumlah teman aktivis langsung bergerak membawa Guntur menuju rumah sakit terdekat.

Sembilan tahun setelahnya, Mariana mengaku masih tak pernah menyangka, aksi damai pada 1 Juni 2008 itu akan berujung ricuh. Saat itu dirinya dan sejumlah aktivis dari berbagai kelompok yang tergabung dalam Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) tengah bersiap membentuk barisan dan membuka spanduk untuk menggelar aksi damai.

“Waktu itu kondisinya lengang. Kami juga berpikir tidak ada apa-apa karena kebetulan hari Minggu, lagi ramai orang olahraga di Monas,” ujar Mariana mengenang kembali tragedi itu saat ditemui CNNIndonesia.com awal Agustus lalu.

Kala itu situasi yang kondusif, katanya, mendadak berubah ketika tiba-tiba muncul sebuah truk mengangkut sejumlah pemuda mengenakan jubah putih dan peci berwarna senada. Ada label Front Pembela Islam (FPI) dari pakaian yang mereka pakai. 

“Mereka turun dari truk sambil bawa bambu ke dalam Monas. Sambil marah-marah mereka langsung pukulin orang-orang,” ujar Mariana.

Mariana hampir jadi korban jika tak berbalik melawan seorang remaja pria anggota FPI yang mengacungkan bambu ke arahnya. Remaja itu sempat terkejut melihat reaksi Mariana yang berani melawan.
Monas, Gereja dan Kenangan Buruk tentang FPI (EMBG)Monas menjadi saksi bisu peristiwa kekerasan pada 1 Juni 2008 lalu. Peristiwa itu dikenal dengan Insiden Monas. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/ed/nz/14)


“Aku tanya ke dia, ‘kamu ngapain, dek, di situ!?’. Dia enggak jadi mukul, padahal bambunya udah tiga centimeter di depan aku. Dia langsung lari ke arah lain,” tuturnya.

Kondisi saat itu cukup chaos. Sebagian besar peserta aksi damai luka-luka karena dipukuli. Tak hanya kaum pria, menurut Mariana, ibu-ibu yang membawa anaknya pun tak luput jadi korban pemukulan.

Ia sendiri sempat kesal karena tak ada satu pun polisi yang berjaga saat peristiwa itu terjadi. Perempuan yang kini aktif di Komnas Perempuan ini pun langsung berinisiatif mencari polisi di sekitar lokasi kejadian.

“Aku sempat marah-marah sama polisi karena enggak ada yang jaga. Setelah itu baru polisi koordinasi dan 30 menit kemudian muncul. Tapi ya sudah banyak yang berdarah-darah,” katanya.
Pemberitaan soal peristiwa di Monas saat itu langsung ramai. Bahkan, menurut Mariana, sejumlah stasiun televisi menayangkan siaran langsung hingga berjam-jam.

“Aku enggak begitu tahu akhirnya bagaimana atau siapa saja yang ditangkapi karena nolongin Guntur. Tapi pemberitaan di media massa saat itu memang luar biasa,” ucapnya.

Peristiwa itu kemudian dikenal dengan ‘Insiden Monas 2008’. Akibat peristiwa tersebut, para pentolan FPI seperti pemimpin Rizieq Shihab dan Munarman harus mendekam di bui.


Kemerdekaan Beribadah

Kenangan buruk lainnya juga diceritakan oleh pendeta Palti Panjaitan.

Saat itu dia bergerak menuju gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Filadelfia pada suatu pagi di hari Minggu tahun 2012. Seperti hari Minggu biasanya, sebagai pendeta Palti mesti memimpin para jemaat yang rutin beribadah di gereja yang terletak di kawasan Tambun, Bekasi itu. Meski disegel, jemaat tetap beribadah di pelataran gereja.
 
Siapa sangka, niatnya untuk beribadah berujung petaka. Mendadak puluhan orang berjubah putih dengan label Front Pembela Islam (FPI) telah memenuhi pelataran gereja. Mereka menghadang para jemaat yang akan beribadah.
 

“Setiap Minggu selalu begitu, kami dilarang beribadah,” ujar Palti melalui sambungan telepon, Rabu (16/8).

Dalam setiap kesempatan itu, diakui Palti, tak jarang para jemaat harus menerima lemparan telur busuk hingga air comberan dalam perjalanan menuju gereja. Saat beribadah pun, kelompok FPI itu melakukan demo di dengan pengeras suara hingga mengganggu para jemaat yang tengah berdoa.
 
“Yang paling parah waktu malam natal, jemaat dihadang hingga harus dievakuasi ke Polsek Tambun,” katanya.
 
Ia bahkan ditetapkan sebagai tersangka dengan tuduhan menganiaya dan melakukan perbuatan tidak menyenangkan terhadap seseorang bernama Abdul Aziz saat malam natal tersebut. Padahal saat itu dirinya hanya bermaksud membela diri karena akan diserang Abdul. Namun akhirnya Palti hanya dijerat dengan tindak pidana ringan.
Monas, Gereja dan Kenangan Buruk tentang FPI (EMBG)Sebagian jemaat HKBP Filadelfia kini kerap melakukan ibadah di seberang Istana Negara, Jakarta. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Sampai saat ini, lanjut Palti, belum ada kejelasan bagi para jemaat HKBP Filadelfia yang ingin beribadah. Mereka terpaksa melakukan kebaktian tiap dua minggu sekali bersama jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin Bogor yang mengalami nasib serupa di depan Istana Negara.   
 
Tak hanya oleh kelompok ormas saja, Palti mengatakan diskriminasi terhadap ibadah mereka pun dilakukan pemerintah setempat. Gereja HKBP Filadelfia masih disegel Pemkab Bekasi sejak 2009 silam meski telah mengajukan izin sejak lama.

Pihaknya kemudian mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung atas penyegelan tersebut. Hasilnya pihak gereja HKBP menang atas gugatan tersebut.

Kemerdekaan Sesungguhnya

Namun bukannya membuka izin pembangunan gereja, pemkab Bekasi justru mengajukan banding. Beruntung, hingga di tingkat Mahkamah Agung (MA), pihak HKBP Filadelfia tetap memenangkan gugatan tersebut. Artinya, Pemkab Bekasi harus mengeluarkan izin pembangunan gereja.
 
“Tapi nyatanya putusan pengadilan tidak dieksekusi. Gereja sampai sekarang tetap disegel dan nasib jemaat tak jelas,” ucap Palti. 
 
Kini Palti tak lagi menjadi pimpinan gereja HKBP Filadelfia. Sejak beberapa tahun lalu, Palti pindah ke Yogyakarta untuk menempuh studi di Kota Pelajar itu. Namun ia mengaku masih berkomunikasi intensif dengan para jemaat gereja.
 

Palti meminta pemerintah dapat segera memberi kejelasan bagi para jemaat untuk beribadah. Seiring hari kemerdekaan Indonesia ke-72, Palti tentu berharap Presiden Joko Widodo memberikan kemerdekaan bagi warganya untuk beribadah.

Ia juga berharap pemerintah mematuhi hukum dengan menjalankan putusan pengadilan.
 
“Harapan saya ke Pak Jokowi berilah kemerdekaan yang sesungguhnya termasuk kemerdekaan beribadah, karena tugas utama pemerintah memang memastikan itu bagi warganya,” ucapnya.
HALAMAN :
1 2