Menyimak Derita Muslim Rohingya dari Mata Relawan Pramuka

Lalu Rahadian, CNN Indonesia | Kamis, 07/09/2017 01:15 WIB
Perempuan dan anak-anak Rohingya menjadi korban terparah. Bahkan anak-anak terbatas akses untuk sekadar bermain. Banyak dari mereka juga mengalami gizi buruk. Anak-anak etnis Rohingya terbatas akses untuk sekadar bermain selama di kamp pengungsian. (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kamp pengungsian etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar benar-benar sangat tidak layak. Hujan sering turun membuat posko pengungsian di sana semakin buruk.

Tak ada senyum ceria dari anak-anak di kamp itu. Mereka terbatas akses untuk sekadar bermain. Begitu juga dengan kaum perempuan. Banyak dari mereka yang menderita gizi buruk selama tinggal di pengungsian.

Demikian sedikit fakta yang disampaikan Andalan Nasional Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Urusan Pengabdian Masyarakat dan Siaga Bencana, Eko Sulistio. Eko menggambarkan situasi dan kondisi terkini di kamp pengungsian etnis Rohingya melalui sebuah video yang diputar di Kantor Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Gambir, Jakarta, Rabu (6/9).


Eko bercerita, anak dan perempuan etnis Rohingya memang menjadi korban terparah akibat konflik di Myanmar. Sementara, pasokan makanan dan obat-obatan nyaris tak ada.

"Mereka (anak-anak) tak punya akses bermain, akses kesehatan, pendidikan, makanan yang layak. Kondisi terakhir di Rohingya jelas sekali mereka sangat menderita, anak-anak banyak yang menderita gizi buruk, kaki tangan mereka banyak yang korengan, ibu-ibunya juga banyak yang lemas," kata Eko.

Derita Muslim Rohingya dari Mata Relawan PramukaPerempuan dan anak-anak Rohingya menjadi korban terparah. Banyak dari mereka juga mengalami gizi buruk. (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain).
Eko menyaksikan langung penderitaan etnis Rohingya saat menjadi relawan untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Myanmar, akhir Agustus lalu.

Saat bertandang ke Rakhine, Eko menemui banyaknya anak-anak Rohingya yang trauma. Mereka juga banyak yang ditemui tanpa mengenakan pakaian.

Gerakan Pramuka mengirim Eko ke Myanmar seorang diri. Ia pergi bersama rombongan relawan dari lembaga swadaya masyarakat lain.

Bukan tanpa alasan Eko dikirim seorang diri. Menurut Andalan Nasional Pramuka Bidang Luar Negeri, Indo Reyano Samili, risiko besar membayangi keberangkatan anggota Pramuka ke negara ASEAN itu.

"Makanya kami tidak bisa kirim banyak anggota. Eko juga kebetulan sering membantu korban-korban pengungsian di banyak negara. Makanya ia berangkat ke sana, kami juga bangga padanya," kata Indo.

Gerakan Pramuka disebut telah mendaftar ke Aliansi Kemanusiaan untuk Myanmar agar dapat mempermudah proses pengiriman bantuan bagi etnis Rohingya. Aliansi itu beranggotakan setiap LSM atau organisasi yang hendak mengirim bantuan ke sana.

Setiap bantuan yang dikirim ke Myanmar dibawa dari Indonesia dalam bentuk uang. Nantinya, uang hasil donasi dibelanjakan makanan cepat saji, vitamin, obat-obatan, serta keperluan lain untuk dibagikan ke pengungsi.

Pramuka Buka Saluran Bantuan untuk Rohingya

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2