Lima Bulan Teror Air Keras, Keluarga Novel Gelar Pengajian

Bimo Wiwoho, CNN Indonesia | Senin, 11/09/2017 14:20 WIB
Lima Bulan Teror Air Keras, Keluarga Novel Gelar Pengajian Majelis Taklim Masjid Al Ikhsan mengadakan pengajian di kediaman penyidik KPK, Novel Baswedan, di Kelapa Gading, Jakarta, Senin (11/9). (CNNIndonesia/Bimo Wiwoho)
Jakarta, CNN Indonesia -- Keluarga penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menggelar pengajian bersama Majelis Taklim Masjid Al Ikhsan, Kelapa Gadung Senin (11/9).

Pengajian yang digelar di kediaman sang penyidik di kawasan Kelapa Gading, Jakarta, itu bertepatan masa lima bulan pascaperistiwa teror air keras yang menimpa Novel.

"Semoga cepat selesai (kasusnya) dan semoga Pak Novel cepat sehat kembali dan bisa berkumpul dengan keluarganya," kata Ketua Majelis Taklim Masjid Al Ikhsan usai pengajian di kediaman Novel.
Istri Novel, Rina Emilda mengatakan, pengajian digelar khusus untuk mendoakan suaminya yang saat ini masih dirawat di Singapura. Dia pun sangat berterima kasih kepada anggota Majelis Taklim yang selama ini peduli dengan kondisi suaminya.


"Tujuannya, mendoakan suami saya, pak Novel Baswedan, jauhkan dari fitnah. Lalu, diberikan kekuatan kepada keluarga agar ikhlas menerima kondisi ini," tutur Rina.

Rina lalu berharap kepolisian lekas mengungkap pelaku teror atas Novel. Di samping itu, Rina juga ingin Presiden Joko Widodo turut ambil sikap demi mempercepat penuntasan kasus Novel yang telah memasuki lima bulan tanpa kejelasan.

Meski menuntut Jokowi agar lebih peduli terhadap penuntasan kasus Novel, Rina juga sangat berterima kasih karena biaya pengobatan suaminya ditanggung pemerintah.

Jelang Lima Bulan Teror, Keluarga Novel Gelar PengajianIstri Novel Baswedan, Rina Emilda di kediamannya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)

Novel saat ini menjalani pengobatan mata kirinya yang rusak akibat siraman air keras. Itu pun membuat dirinya terpaksa diperiksa polisi di Singapura untuk mendapatkan keterangan atas pelaku yang menerornya.

"Seluruh pengobatan di Singapura sudah ditanggung. Kami berterima kasih kepada Presiden atas hal tersebut. Tapi selanjutnya kami mohon memberikan perhatian lebih untuk segera menyelesaikan kasus ini dengan TGPF (tim gabungan pencari fakta) agar melihat fakta lebih objektif," kata Rina.

Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Yati Andriani juga hadir dalam pengajian tersebut. Senada Rina, Yati pun mendesak Jokowi memberi perhatian penuh terhadap penuntasan kasus yang menimpa Novel.

Menurut Yati, sudah saatnya Jokowi mengevaluasi kinerja Polri yang selama lima bulan tidak kunjung menemukan titik terang. TGPF, kata Yati, perlu dibentuk agar pengungkapan kasus Novel tidak hanya terpaku pada pelaku penyiraman saja.

"Agar kasus Novel diungkap dan sampai kepada aktor intelektual," kata Yati.

Di sisi lain, ketika kasus teror yang dialaminya belum jelas, Novel justru dilaporkan ke polisi dengan tuduhan di antaranya pencemaran nama baik. Tercatat ada dua laporan yang ditujukan atas Novel. Keduanya itu datang dari koleganya sendiri, yakni Direktur Penyelidikan KPK Brigjen Pol Aris Budiman dan Wakil Direktur Tindak Pidana Korupsi Badan Reserse Kriminal (Wadir Tipikor Bareskrim) Polri Komisaris Besar Erwanto Kurniadi