Pernyataan itu disampaikan dirinya dalam kapasitas sebagai saksi ahli pada sidang praperadilan Ketua DPR Setya Novanto dalam kasus korupsi e-KTP di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (26/9).
“Misalnya saya, kalau konteks pencegahan terkait persoalan baru dugaan, misalnya dari aparat penegak hukum untuk memudahkan penyelidikan, penyidikan dan seterusnya, itu saya dicegah. Begitu konteksnya pencegahan dari penegak hukum ini sifatnya pro justitia,” kata Gde menanggapi pertanyaan dari kuasa hukum Setya Novanto, Amrul Khair Rusin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menjawab itu, Gde menilai aparat penegak hukum tidak sendiri menentukan pencegahan terhadap seseorang. Aparat tersebut pasti meminta pada institusi eksekutif untuk mencegah seseorang.
Menjawab itu, Gde menjelaskan pencegahan ke luar negeri harus melihat pada fakta yang ada. Jika, sosok tersebut kooperatif dalam pemeriksaan tak perlu dicegah. Ia pun menganalogikan dirinya sendiri untuk menjawab pertanyaan itu.
“Misal saya dipanggil, saya datang kooperatif, beralasan enggak saya untuk dicegah? Itu maksud saya kooperatif. Kecuali kalau saya dipanggil ngumpet. Dua kali, empat kali ngumpet, [maka] cegah. Itu maksud saya, apa lagi sakit,” kata Gde.
Sebelumnya, pencegahan atau pencekalan merupakan salah satu hal yang dipermasalahkan kuasa hukum Setnov. Mereka meminta Hakim Tunggal Cepi Iskandar membatalkan pencegahan Setnov berpergian ke luar negeri karena mereka menilai pencegahan tersebut tidak objektif dan mengada-ada.