Riwayat Tugu Tani, Massa Anti-PKI dan Aksi 299

Oscar Ferry, CNN Indonesia | Kamis, 28/09/2017 10:41 WIB
Riwayat Tugu Tani, Massa Anti-PKI dan Aksi 299 Sudah beberapa kali Tugu Tani dipersoalkan karena dianggap sebagai simbol komunis di Indonesia. Besok sejumlah ormas menyasar Tugu Tani sebagai target aksi 299. (AFP PHOTO / GOH CHAI HIN).
Jakarta, CNN Indonesia -- Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) menggagas Aksi 299 di Tugu Tani dan Gedung DPR, Jakarta, Jumat (29/9). Terkait aksi di Tugu Tani, FUIB sengaja memilih tugu tersebut sebagai sasaran aksi yang bertajuk 'Apel Akbar Melawan Bangkitnya Komunisme di Indonesia'.

"Karena Tugu Tani simbol komunisme yang masih ada di Jakarta," ujar Koordinator FUIB Rahmat Himran perihal lokasi aksi, Rabu (27/9).

Koordinator Apel Akbar, Nanang Qosim menambahkan, aksi 299 bertujuan untuk mengingatkan masyarakat pada bahaya bangkitnya PKI dan paham komunisme. Indikasinya, sejumlah acara yang terindikasi hendak membangkitkan komunisme telah digelar. Misalnya, kata dia, Seminar 'Pengungkapan Kebenaran Sejarah 1965' di LBH Jakarta, serta Simposium 65 pada tahun lalu di Hotel Aryaduta.



"FUIB, Barisan Garuda Pancasila dan Ormas Anti komunisme mengingatkan kepada seluruh lembaga negara, institusi pemerintahan, dan elemen bangsa Indonesia untuk tidak mendukung dan terlibat dalam kegiatan apapun yang berindikasi komunisme," ujar Nanang, yang juga Kepala Divisi Humas Forum Umat Islam itu.

Kewaspadaan tinggi ini, lanjut Nanang, terkait dengan sejarah komunisme melalui PKI yang disebutnya sudah melakukan pembantaian terhadap militer hingga para ulama, terutama dalam peristiwa G30S.

Bukan kali ini saja Tugu Tani menjadi polemik. Tahun lalu, Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al-Khaththath pernah mengutarakan hal serupa saat dialog 'Lawan Komunis Gaya Baru' yang diselenggarakan Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia (FPKKPI), Rabu 25 Mei 2016.


Dalam diskusi itu, dia menuntut pemerintah merobohkan Tugu Tani karena jadi simbol komunis. Patung yang menggambarkan seorang perempuan dan laki-laki bergaya petani itu dianggap sebagai warisan komunis.

Kemudian pada 2001, Tugu Tani kembali dipermasalahkan sekelompok orang yang tergabung dalam Aliansi Anti Komunis (AAK). Mereka mengancam merobohkan patung peninggalan komunis tersebut.

Jauh ke belakang, tepatnya pada 1982, Tugu Tani juga pernah dipaparkan oleh Letnan Jenderal (Purn) Sarwo Edhie Wibowo. Panglima RPKAD (kini Kopassus) saat penumpasan pemberontakan Gerakan 30 September 1965 itu menilai Tugu Tani sebagai pengejahwantahan komunis.

Mertua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu menilai tak ada petani di Indonesia yang mempunyai gaya seperti petani di tugu tersebut yang angkuh dan memegang senjata. Petani model seperti itu dianggap sebagai petani komunis.


Bahkan, Sarwo Edhie yang pada saat itu menjabat sebagai Inspektur Jenderal Departemen Luar Negeri meminta Gubernur DKI Jakarta Suprapto kala itu untuk meratakannya ke tanah.

Dia meminta Tugu Tani dirobohkan karena tak ingin Indonesia terus memasang tugu yang merepresentasikan Barisan Tani Indonesia (BTI/organisasi yang berafiliasi dengan PKI pada 1965) tersebut.

Besok, Jumat (29/9), Tugu Tani kembali dipermasalahkan. Monumen yang disebut oleh mantan Wakil Presiden RI Adam Malik sebagai simbol perjuangan pembebasan Irian Barat (kini Papua) itu menjadi lokasi aksi 299.

Ada tiga agenda Apel Akbar yang digelar mulai pukul 13.30 WIB ini. Pertama, mimbar bebas orasi perlawanan terhadap komunis dari berbagai perwakilan Ormas/BEM/Masyarakat/Ulama, dan mahasiswa. Kedua, deklarasi FUIB Tolak Komunisme di NKRI. Ketiga, nonton bareng film dokumenter G-30S/PKI.

Tak Relevan dengan Komunis

Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIP), Asvi Warman Adam menjelaskan, Tugu Tani tak terkait dengan ideologi komunis. Menurut Asvi, salah besar ketika hari ini masih ada orang yang menuding Tugu Tani sebagai simbol komunisme yang tersisa di Indonesia.

"Tidak relevan. Karena tugu itu tidak dibangun sesudah peristiwa G-30S. Tugu Tani itu dibangun jauh sebelum G-30S," ujar Asvi kepada CNNIndonesia.com.
Riwayat Tugu Tani dan Kontroversi Cap Simbol KomunisSejarawan mengatakan patung Tugu Tani bukan simbol komunisme melainkan pembebasan Irian Barat. (Detikcom/Ari Saputra)
Asvi menambahkan, Tugu Tani dibangun pada tahun 1960. Sejarahnya, Presiden Sukarno saat itu menginginkan ada prasasti lain terkait perjuangan pembebasan Irian Barat selain monumen Pembebasan Irian Barat yang ada di Lapangan Banteng.

"Monumen Pembebasan Irian Barat sudah dibangun di Lapangan Banteng, tapi Bung Karno merasa belum cukup," ujar dia.


Jadilah Sukarno meminta mantan Wakil Presiden Adam Malik yang saat itu menjadi Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet (kini Rusia) agar mencarikan pematung setempat yang bisa membuat patung berkaitan dengan perjuangan Pembebasan Irian Barat.

"Adam Malik waktu jadi Dubes tahun 1960 mengatakan Bung Karno datang ke Moskow meminta dan menanyakan, dia minta Adam Malik mencarikan pematung yang terkenal. Bung Karno ingin memesan patung yang berhubungan dengan pembebasan Irian Barat," ucap Asvi.

Karena itu, lanjut Asvi, ide pembuatan Tugu Tani itu berasal dari Sukarno. Idenya bercerita tentang perjuangan rakyat yang membantu militer dalam pembebasan Irian Barat dari tangan Belanda. Temanya, seorang ibu merelakan kepergian anaknya yang seorang petani untuk berperang dalam pembebasan Irian Barat.

"Tema idenya bercerita tentang seorang ibu yang melepas anaknya yang mau pergi perang. Itu simbol petani, itu simbol rakyat yang mendukung perjuangan militer membebaskan Irian Barat, bukan tentara komunise," ucapnya.

Kemudian, patung itu menjadi sumbangan Uni Soviet kepada Indonesia sebagai dua negara yang bersahabat kala itu. Sedari dulu pun, Uni Soviet banyak membantu pembangunan di Indonesia, misalnya Stadion Gelora Bung Karno di Senayan, yang pada masa Orde Baru namanya diubah menjadi Stadion Utama Senayan.

Karena itu, Asvi menilai, aksi 299 yang salah satunya berlokasi di Tugu Tani menjadi tidak 'nyambung' antara konteks sejarah dan tema aksi yang bertujuan mengingatkan kembali bahaya komunisme.

"Jadi tidak masuk akal, karena konteksnya Tugu Tani itu simbol perjuangan Pembebasan Irian Barat, bukan komunis," ujar Asvi.