Ratusan ribu warga mengungsi. Aktivitas warga sejenak terganggu. Salah satu yang terdampak ancaman letusan yakni Desa Amed, yang selama ini menjadi kawasan wisata tujuan turis domestik dan mancanegara.
Sebelum Gunung Agung 'batuk', sebagian warga Desa Amed menggantungkan hidupnya dari para wisatawan yang datang ke Amed. Namun, kini wisatawan, baik lokal maupun mancanegara memutuskan untuk meninggalkan Amed.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ditemui CNN Indonesia.com, sore itu, Wayan tengah berkumpul dan berbincang dengan warga Amed lainnya di tepi Pantai Amed.
"Kami jadi menganggur sekarang," kata Wayan.
Menjadi pengangguran untuk sementara waktu, membuat warga juga tak memiliki penghasilan. Akibatnya, kata Wayan, banyak warga yang mencari cara untuk bertahan hidup. Dia bercerita ada warga Amed yang terpaksa harus menjual hewan ternak yang dimilikinya.
Bahkan, mereka pun terpaksa banting harga agar hewan ternaknya bisa terjual dan ia mendapatkan uang untuk memenuhu kebutuhan sehari-hari.
"Yang paling murah itu kemarin domba dijual Rp50.000," ungkap Wayan.
Mereka yang memiliki mata pencaharian sebagai nelayan pun, ikut terdampak. Wayan menuturkan tak banyak warga yang membeli hasil tangkapan nelayan karena sebagian besar warga sudah mengungsi ke posko pengungsian.
Meski begitu, para nelayan tetap melakukan aktivitas melaut seperti biasanya. "Ya tetap melaut jam 5 pagi berangkat, nanti kalau tangkapan enggak habis terjual ya untuk konsumsi sendiri," tuturnya.
Wayan berharap, agar situasi segera berubah, mengingat mereka juga harus memenuhi kebutuhan hidupnya.
[Gambas:Video CNN]
Belum Menerima Bantuan
Berada di KRB II Gunung Agung, membuat warga Desa Amed juga harus mengungsi ke posko pengungsian demi keamanan dan keselamatan.
Wayan menuturkan, posko pengungsian berada di Banjar Amed. Posko itu merupakan posko mandiri yang dibuat oleh para pecalang Banjar Amed.
Meski merupakan posko pengungsian, menurut Wayan posko di Banjar Amed tersebut belum menerima bantuan dari pihak pemerintah Kabupaten Karangasem atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karangasem.
"Baru bantuan dari sumbangan masyarakat saja," kata Wayan.
Wayan mengungkapkan bantuan yang dibutuhkan adalah masker, karena jika mengacu pada letusan Gunung Agung tahun 1963 maka dampak debu vulkanik akan sampai ke Desa Amed.
"Masker, karena biar enggak mengirup asap beracun sama debu vulkanik, apalagi di sini banyak anak kecil," ujar Wayan.
"Masker di sekitar sini juga sudah habis, susah carinya, makanya yang dibutuhkan masker," tambahnya.