Kepala Badan Perencanaan Pambangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta Tuty Kusumawati mengatakan, pihaknya menyiasati hal itu dengan menggunakan salah satu usulan rekayasa teknologi yang diajukan Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Rekayasa teknologi itu dilakukan dengan cara membuat kolam pendingin culvert box di antara Pulau G dan Pulau H. Namun Tuty tak menjelaskan lebih jauh bagaimana kolam pendingin itu dapat mencegah gangguan operasional PLTGU Muara Karang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, dalam rekayasa teknologi itu, nelayan bisa tetap menggunakan jalur yang sama yang telah mereka gunakan selama ini.
Demo nelayan menolak reklamasi Teluk Jakarta. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Lihat juga:Soal PLTGU, Pulau G Tetap Tak Akan Redesain |
"Naik satu derajat celsius air inlet, bisa menurunkan kapasitasnya. Ini sudah ada studinya, pokoknya air inlet harus dingin. Nah, kalau temperatur naik, kapasitas pembangkit akan turun,” imbuh Haryanto.
Haryanto melanjutkan, inefisiensi akan mengakibatkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) pembangkitannya menjadi mahal.
Pemotongan Pulau G
Terpisah, Kepala Satuan Korporate Komunikasi PLN, I Made Suprateka justru menyebut pemotongan pembangunan Pulau G hasil reklamasi tetap menjadi solusi terbaik, meski pemerintah telah menyetujui usulan rekayasa teknologi yang diajukan PLN.
“Solusi yang benar ya tetap dipotong sebanyak-banyaknya Pulau G,” ujar Made saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui telepon.
“Intinya mau apapun, selain dipotong itu berbahaya, tapi mau bagaimana lagi. Coba tanyakan pada mereka, kenapa mereka keukeuh tidak mau potong, kita kan di sini hanya memberi saran, ya sudah mau bagaimana lagi,” kata Made.
Demo nelayan menolak reklamasi Teluk Jakarta. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)