"Saya berdoa dari sini untuk keselamatan umat manusia," katanya saat ditemui CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu di salah satu zona berbahaya erupsi Gunung Agung.
Berbeda dengan warga kebanyakan, Jro Mangku memilih untuk tidak tinggal di pengungsian. Baginya, status awas Gunung Agung masih dalam kondisi aman.
Jro Mangku Dharma memilih bertahan di Zona Berbahaya Gunung Agung. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tentang alasannya tetap tinggl, Jro Mangku merujuk pada insiden terakhir Gunung Agung, pada 1963. Kala itu, Desa Sebudi terkena muntahan material vulkanik berupa lahar dan debu. Meski begitu, Jro Mangku bersama masyarakat Desa Sebudi lainnya hanya berlindung di balik pohon besar.
Baginya saat ini Gunung Agung belum akan meletus, baru getaran dari gempa saja. Karena itu ia akan terus berada di Desa Sebudi.
Berdasarkan data BNPB, sejauh ini aktivitas gempa mencapai 247 kali. Rinciannya, sebanyak 88 kali gempa vulkanik dangkal, 143 kali gempa vulkanik dalam, dan 16 kali gempa tektonik total.
Sebelum Jro Mangku, Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi, lebih dulu dikenal secara nasional sebagai pria tua yang menolak tinggal di rumahnya di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, meski bencana terjadi. Alasannya, tanggung jawab sebagai juru kunci Merapi.
Saat Merapi meletus pada 2006, keputusannya tepat. Namun, pada letusan 2010, pilihannya itu berujung maut.
Lihat juga:Pengungsi Gunung Agung Tetap Bekerja |
Sejak ditetapkan statusnya dalam Tingkat IV (Awas), BNPB mendata bahwa jumlah pengungsi hingga Senin (2/10) mencapai 139.945 jiwa dan tersebar di 419 titik pengungsian. Terbanyak, pengungsi ada di wilayah Kabupaten Klungkung sebanyak 22.723 jiwa dan Kabupaten Karangasem sebanyak 50.544 jiwa.
Namun, Gubernur Bali Made Mangku Pastika, Minggu (1/10), mempersilakan warga dari 50 desa termasuk Zona Aman untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Yang diwajibkan mengungsi hanya warga dari 28 desa yang termasuk Zona Merah.
Jro Mangku Dharma memilih bertahan di Zona Berbahaya Gunung Agung. (CNN Indonesia/Andry Novelino)