Tim 11 Tangani Polemik Senjata, Polri dan TNI Jaga Hubungan

Joko Panji Sasongko , CNN Indonesia | Kamis, 12/10/2017 12:42 WIB
Tim 11 Tangani Polemik Senjata, Polri dan TNI Jaga Hubungan Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian menyatakan polemik pembelian senjata Korps Brimob Polri saat ini tengah ditangani oleh tim internal pemerintah yang terdiri dari 11 instansi terkait persenjataan.

Menurut Tito, Menkopolhukam Wiranto selaku ketua akan menyampaikan hasil kajian tim internal tersebut. Tito meminta polemik itu tidak berlanjut ke ranah publik.

"Khusus mengenai polemik senjata sudah ditangani oleh tim internal pemerintah," ujar Tito dalam rapat kerja dengan Komisi III di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (12/10).


Tito menjelaskan, tim internal pemerintah itu juga terdiri dari 11 instansi terkait persenjataan, termasuk Polri. Ke-11 instansi itu akan diminta untuk memberikan pendapat dalam menyelesaikan polemik tersebut.

Saat ini, Tito mengkliam, tim tersebut telah menggelar rapat awal membahas teknis penyelesaian polemik regulasi dan perizinan pengadaan senjata.

"Kemarin sudah masuk ke rapat yang teknis untuk membentuk tim pengaturan regulasi dan lain-lain," ujarnya.

Di sisi lain, Tito menuturkan, hubungan Polri dan TNI menjadi alasan dirinya meminta polemik tersebut dihentikan. Ia khawatir, ada pihak ketiga yang memanfaatkan polemik tersebut untuk memecah hubungan Polri dan TNI.


Menurut Tito, konflik antara Polri dan TNI akan menyebabkan dampak yang serius, khususnya bagi rakyat dan negara.

"Hubungan TNI dan Polri jadi hal yang jauh lebih penting. Karena ini adalah dua pilar NKRI," ujar Tito.

Tito pun menyatakan, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo telah menegaskan hubungan TNI dan Polri harus solid. Para personel diminta tidak terpengaruh isu yang dapat memecah hubungan TNI dan Polri.

"Bapak Panglima TNI sepakat dengan kami saat apel lalu, sudah menyampaikan dengan tegas bahwa hubungan Polri dengan TNI di semua lini harus solid," ujarnya.


Polemik impor senjata dan amunisi Korps Brimbob Polri muncul setelah tertahannya kargo berisi senjata yang tiba dengan pesawat maskapai Ukraine Air Alliance, di Bandara Soekarno Hatta, pada Jumat (29/9) pukul 23.30 WIB.

Kargo itu berisi 280 pucuk senjata Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) kaliber 40 x 46mm dan amunisi RLV-HEFJ kaliber 40x 46mm mencapai 5.932 butir.

TNI menilai, amunisi yang hendak digunakan Korps Brimob itu membahayakan sehingga perlu diteliti lebih mendalam.

(gil)