Ahok, 'Media Darling' dan Diam Jadi Berita

Muhammad Andika Putra , CNN Indonesia | Jumat, 13/10/2017 17:51 WIB
Ahok, 'Media Darling' dan Diam Jadi Berita Ahok lebih menyukai berita yang mengkritisi dirinya ketimbang yang memuji. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wajah Neneng Herbawati nampak semringah ketika bertemu CNNIndonesia.com untuk membicarakan sosok Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ia tersenyum ketika mengingat sejumlah kenangan bersama Ahok yang kini mendekam di penjara karena kasus penodaan agama.

Sebagai koordinator tim media dan komunikasi Rumah Lembang, markas kampanye Ahok-Djarot, Neneng sangat dekat dengan Ahok. Saat pilkada, hampir setiap hari ia berkomunikasi lewat pesan singkat untuk membicarakan konten yang akan disampaikan di panggung dan apa saja yang harus dijawab ketika ditanya awak media.
Setiap hari Neneng dan timnya memproyeksikan tiga sampai empat berita dari pernyataan Ahok di atas panggung.

Ahok, kata Neneng, tidak peduli dengan pemberitaan tentang dirinya yang berbau positif atau negatif di media. Berita apa pun tentang dirinya akan ditelan tanpa komentar.

Mantan wartawan itu menjelaskan, Ahok justru senang dengan berita yang mengritik kinerja sebagai gubernur DKI Jakarta. Seperti berita yang menceritakan daerah yang belum dibenahi oleh Pemerintah Provinsi DKI sehingga bisa langsung ditindaklanjuti.

Ahok juga dikenal hangat dengan wartawan. Neneng mengatakan, Ahok akan meladeni dan menjawab apapu pertanyaan awak media. 

"Pak Ahok kasihan kalau wartawan bekerja menunggu di Balai Kota atau Rumah Lembang atau blusukan kemudian enggak dapat berita. Jadi apa pun dia akan jawab, buat dia yang penting program kerja tersampaikan," kata Neneng.

Sebagai tokoh publik, apa yang disampaikan Ahok harus diatur agar program kerja yang disampaikan bisa diterima. Neneng bersama tim komunikasi dan media selalu memberi penjelasan pada Ahok apa yang harus dibicarakan di atas panggung. 
Ahok, Media Darling yang Tak Peduli PencitraanAhok disebut tak memperdulikan pencitraan di media. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Meski sudah dirancang demikian rupa, namun Ahok kerap berimprovisasi dengan baik. Salah satunya ketika tim meminta Ahok membicarakan isu inflasi, Ahok menyampaikan dengan baik karena menjahit pemberitaan media. Ahok selalu menyempatkan waktu untuk membaca berita sebelum berbicara di panggung atau bertemu awak media.

Terkadang tim meminta Ahok tak menjawab sejumlah isu yang ditanyakan awak media. Mereka tak ingin citra Ahok negatif karena pemberitaan. Namun Ahok tetap ingin menjawab semua pertanyaan.

Walau demikian, Neneng mengaku ada perubahan gaya menjawab Ahok ketika memasuki akhir Pilkada 2017, terutama saat di Rumah Lembang. Tak seperti biasa, Ahok irit bicara pada media dan bahkan ada pertanyaan yang kadang tak dijawab.
Neneng mengaku perubahan itu bukan arahan tim komunikasi dan media. Tim selalu meminta Ahok untuk menjadi diri sendiri ketika menjawab pertanyaan awak media. Menurutnya  Ahok sudah pintar dan tak memerlukan konsultan untuk menghadapi awak media.

"Waktu itu dia mulai sadari bahwa saya Basuki bukan Ahok. Perubahan itu yang keliatan nilainya filosofis banget. Jadi dia berusaha keliatan seperti Basuki, kayaknya itu yang mengendalikan dia," kata Neneng.
Dalam beberapa kesempatan Ahok sering menyampaikan bahwa dia adalah Basuki sejak kasus Al Maidah. Mantan Bupati Belitung Timur itu seakan ingin merubah karakter menjadi lebih tenang.

Di sisi lain, kata Neneng, Ahok sadar bahwa dirinya adalah media darling. Bahkan Ahok pernah berkata "Saya diam saja jadi berita". Berita apa pun tentang Ahok selalu diburu oleh khalayak, baik yang positif atau negatif.

"Ahok ngomong dua kata aja bisa jadi lead. Kalau istilah media online itu clickbait," kata Neneng.
[Gambas:Video CNN]