Sebagai koordinator tim media dan komunikasi Rumah Lembang, markas kampanye Ahok-Djarot, Neneng sangat dekat dengan Ahok. Saat pilkada, hampir setiap hari ia berkomunikasi lewat pesan singkat untuk membicarakan konten yang akan disampaikan di panggung dan apa saja yang harus dijawab ketika ditanya awak media.
Ahok, kata Neneng, tidak peduli dengan pemberitaan tentang dirinya yang berbau positif atau negatif di media. Berita apa pun tentang dirinya akan ditelan tanpa komentar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ahok juga dikenal hangat dengan wartawan. Neneng mengatakan, Ahok akan meladeni dan menjawab apapu pertanyaan awak media.
Sebagai tokoh publik, apa yang disampaikan Ahok harus diatur agar program kerja yang disampaikan bisa diterima. Neneng bersama tim komunikasi dan media selalu memberi penjelasan pada Ahok apa yang harus dibicarakan di atas panggung.
Ahok disebut tak memperdulikan pencitraan di media. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A) |
Terkadang tim meminta Ahok tak menjawab sejumlah isu yang ditanyakan awak media. Mereka tak ingin citra Ahok negatif karena pemberitaan. Namun Ahok tetap ingin menjawab semua pertanyaan.
Walau demikian, Neneng mengaku ada perubahan gaya menjawab Ahok ketika memasuki akhir Pilkada 2017, terutama saat di Rumah Lembang. Tak seperti biasa, Ahok irit bicara pada media dan bahkan ada pertanyaan yang kadang tak dijawab.
Lihat juga:Daftar Warisan Ahok-Djarot untuk Anies-Sandi |
"Waktu itu dia mulai sadari bahwa saya Basuki bukan Ahok. Perubahan itu yang keliatan nilainya filosofis banget. Jadi dia berusaha keliatan seperti Basuki, kayaknya itu yang mengendalikan dia," kata Neneng.
Di sisi lain, kata Neneng, Ahok sadar bahwa dirinya adalah media darling. Bahkan Ahok pernah berkata "Saya diam saja jadi berita". Berita apa pun tentang Ahok selalu diburu oleh khalayak, baik yang positif atau negatif.
"Ahok ngomong dua kata aja bisa jadi lead. Kalau istilah media online itu clickbait," kata Neneng.
[Gambas:Video CNN]
