Tak Sesuai Aswaja, Fondasi Masjid Muhammadiyah Aceh Dibakar

Martahan Sohuturon, CNN Indonesia | Rabu, 18/10/2017 19:25 WIB
Tak Sesuai Aswaja, Fondasi Masjid Muhammadiyah Aceh Dibakar Ilustrasi. Pemuda Muhammadiyah menilai, penolakan berdirinya masjid Muhammadiyah di Bireun karena dianggap tidak sesuai ajaran tradisional yang dipraktikkan pesantren. (ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang)
Jakarta, CNN Indonesia -- Fondasi dan beranda masjid yang baru dibangun jemaah Muhammadiyah di Aceh dibakar oleh sekelompok orang tak dikenal. Pembakaran diduga karena keberadaan masjid itu dianggap tidak sesuai dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang dipraktikkan pesantren di Aceh.

Peristiwa itu dikonfirmasi Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak. Dia mengatakan, pembangunan Masjid Taqwa Muhammadiyah di Samalanga, Kabupaten Bireun itu pada dasarnya telah dilengkapi izin mendirikan bangunan.

"Memang belakangan ini khususnya Bireun kerap muncul keberatan-keberatan yang menolak berdirinya Masjid Muhammadiyah karena dianggap tidak sesuai dengan Aswaja atau ajaran-ajaran tradisional yang dipraktikkan dayah-dayah (pesantren) di sana," kata Dahnil kepada CNNIndonesia.com, Rabu (18/10).



Dahnil menjelaskan, pembangunan masjid itu merupakan hasil gotong royong jemaah Muhammadiyah yang dikerjakan pada Selasa (17/10). Malam harinya, sejumlah orang membakar beranda masjid dan bangunan yang baru berupa fondasi.

"Jemaah Muhammadiyah sudah tahu dugaan siapa yang membakar namun menyerahkan sepenuhnya kepada polisi untuk diusut untuk menghindari fitnah dan asal tuduh," kata Dahnil.

Dia menambahkan, sebelumnya juga terjadi penolakan yang sama atas pembangunan masjid Muhammadiyah di Kecamatan Juli, Bireun. Dahnil mengatakan, peristiwa seperti itu berulang kali terjadi di Bireun. Pihaknya berharap hal ini menjadi perhatian pemerintah terkait potensi konflik intra agama di Aceh.


"Penolakan juga seolah diamini Pemkab dan kantor kementerian agama di sana, namun setelah saya menyampaikan perihal ini kepada Menteri Agama Lukman Hakim, alhamdullilah sudah tuntas," katanya.

Dahnil menilai ada masalah dengan hubungan intra agama di wilayah tersebut. Saat ini Muhammadiyah sedang berupaya membuka dialog dengan berbagai pihak terutama dayah-dayah (pesantren tradisional) Aceh.

"Saya sudah meminta Sekjen Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah untuk langsung ke sana, dan memastikan apa yang terjadi. Alhamdullilah pihak kepolisian juga telah turun tangan," katanya.

Menanggapi peristiwa ini, Kabid Humas Polda Aceh Kombes Gunawan mengatakan, pihaknya telah memerintah kepala Polres setempat untuk memediasi kedua pihak yang bertikai agar konflik serupa tidak terulang kembali. "Secepatnya, (mediasi) hari ini langsung," katanya.


Dia menjelaskan, peristiwa kemarin bukan pembakaran masjid, tapi pembakaran bedeng, balai yang biasanya digunakan pekerja bangunan untuk tidur. Menurutnya, ada pihak yang memprovokasi sebelum peristiwa itu terjadi.

"Itu sudah lama ada konflik masyarakat itu sama kelompok Muhammadiyah. Terus sudah diingatkan ini jangan dekatan masjid," kata Gunawan.