Dinilai Mirip Ahok, Bocah SD di Jaktim Jadi Korban Bully

Gloria Safira Taylor, CNN Indonesia | Selasa, 31/10/2017 17:51 WIB
Dinilai Mirip Ahok, Bocah SD di Jaktim Jadi Korban Bully Ilustrasi tindakan perundungan. (Thinkstock/Gustavofrazao)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang siswa SD negeri di Pasar Rebo, Jakarta Timur, JS, menjadi korban bully karena wajahnya mirip Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Siswa berusia delapan tahun ini bahkan mengalami tindakan kekerasan dari temannya.

“Dia tidak mau masuk sekolah karena di-bully teman-temannya. Dia dijuluki Ahok karena wajahnya, padahal dia dari Nias," Kepala Subdirektorat Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Hendy F Kurniawan saat dikonfirmasi, Selasa (30/10).

Kejadian tersebut hangat diperbicangkan di media sosial setelah akun Facebook bernama Bearo Zalukhu menuliskannya. Bearo mengaku sebagai paman dari JS. 
Dalam tulisan yang diunggah pada 30 Oktober lalu itu, Bearo mengisahkan kejadian yang menimpa JS. Dia meminta kepada Presiden RI Joko Widodo, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan KPAI untuk memperhatikan kejadian tersebut. 


Handy mengatakan, kepolisian saat ini telah memediasi kasus tersebut. Apalagi, selain bully, JS disebut juga sempat ditusuk menggunakan pulpen di tangannya.

“Sempat ditusuk pulpen tangannya tapi sudah sembuh. Biasalah kenakalan anak-anak," ujarnya.

Saat ini, polisi sedang melakukan pendekatan terhadap JS dan keluarganya supaya mau kembali ke sekolah. JS diketahui berasal dari keluarga tidak mampu. 

Menurut Hendy, keluarga JS ingin memindahkannya ke sekolah swasta karena merasa trauma dengan insiden tersebut. 
Karena pelaku perundungan masih berusia anak-anak, Hendy menjelaskan, pihaknya hanya akan memberikan pemahaman dan meminta pihak sekolah untuk memperketat pengawasan. 

Selain itu, Hendy mengaku, pihaknya sedang melakukan pendekatan psikologis untuk memberikan pemahaman soal tindakan yang salah terhadap anak-anak tersebut. 

"Ini kan anak-anak SD yang masih belum tahu akibat perbuatannya. Jadi kami lebih kepada pendekatan psikologis. Dan kepada sekolah untuk mengawasi dengan ketat supaya tidak mengulang kejadian serupa," kata Handy. (sur)