Pertaruhan Khofifah Lawan Gus Ipul di Pilgub Jatim 2018

Priska Sari Pratiwi, CNN Indonesia | Kamis, 23/11/2017 09:46 WIB
Pertaruhan Khofifah Lawan Gus Ipul di Pilgub Jatim 2018 Pilgub Jatim 2018 menjadi kali ketiga bagi Khofifah Indar Parawansa untuk bertarung dengan Saifullah alias Gus Ipul. (ANTARA FOTO/Saiful Bahri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemilihan gubernur Jawa Timur 2018 kini telah diisi dua pasangan bakal calon. Dua pasangan yang sudah mendeklarasikan diri yakni Saifullah Yusuf-Azwar Anas yang diusung PDI Perjuangan dan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak yang resmi diusung Partai Demokrat.

Kompetisi antardua pasangan ini diprediksi menjadi pertarungan sengit dalam gelaran pilgub Jatim. Terlebih pilgub 2018 menjadi kali ketiga bagi Khofifah untuk bertarung dengan Saifullah alias Gus Ipul.

Pada 2008, Khofifah berpasangan dengan Mudjiono. Namun pasangan yang diusung PKB ini kalah oleh Soekarwo-Gus Ipul. Kemudian pada pilgub Jatim 2013, Soekarwo-Gus Ipul kembali memenangkan pemilihan dan mengalahkan Khofifah-Herman Surjadi dengan selisih suara sekitar dua juta pemilih.



Pengamat politik dari UIN Jakarta Adi Prayitno mengatakan, dalam pilgub kali ini Khofifah tak akan mau mengulang kekalahannya. Ia yakin Khofifah akan memaksimalkan kekuatan politik dengan dukungan yang cukup kuat dari partai Demokrat, Golkar, dan Nasdem.

“Kalau sekarang Khofifah pasti tidak mau kalah. Dia akan maksimalkan kekuatan politiknya di Jatim,” ujar Adi kepada CNNIndonesia.com.

Selain itu, lanjut Adi, sebagai menteri sosial Khofifah juga masih diuntungkan karena banyak program yang selama ini beririsan langsung dengan masyarakat. Upaya itu diyakini Adi mampu menjadi peluang bagi Khofifah untuk merebut suara masyarakat, khususnya di Jatim.


Adi menuturkan, upaya yang harus dipikirkan Khofifah saat ini adalah mengambil hati warga Nadhlatul Ulama (NU) yang mendominasi pemilih di Jatim. Massa NU diyakini akan terbelah pada Gus Ipul dan Khofifah mengingat keduanya punya latar belakang NU yang cukup kuat.

Secara struktural, kata Adi, pemilih NU diprediksi akan lebih cenderung pada Gus Ipul. Sementara dari basis tradisional NU akan cenderung memilih Khofifah. Apalagi Khofifah saat ini masih menjabat sebagai Ketua Muslimat NU.

“Apakah Khofifah mampu mengkalkulasi kekuatan politiknya di basis NU atau tidak, itu yang harus dipikirkan,” katanya.


Di sisi lain, permintaan Emil untuk mundur dari PDIP karena mendampingi Khofifah dinilai tak akan berpengaruh pada pemilih pasangan tersebut.

PDIP sebelumnya meminta Bupati Trenggalek itu berinisiatif mengundurkan diri karena tidak mematuhi kebijakan PDIP yang sejak awal sudah mengeluarkan rekomendasi dukungan kepada Bupati Banyuwangi Azwar Anas sebagai bakal cawagub Jatim mendampingi Gus Ipul.

“Tidak akan berpengaruh juga (permintaan mundur), karena sejak awal memang Emil tidak punya parpol. Saat jadi bupati itu dia hanya diusung PDIP,” ucap Adi.

Sengit Gus Ipul, Khofifah, dan Poros Ketiga di Pilgub JatimKhofifah dan Emil mendapat dukungan dari Partai Golkar. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Poros Ketiga

Selain kedua pasangan tersebut, Adi memprediksi ada satu poros pasangan bakal calon yang akan turut meramaikan pilgub Jatim 2018. Meski terbilang lemah, poros ketiga ini yang kemungkinan tengah digodok untuk menguasai pemilih tapal kuda atau di wilayah Madura.

“Kalau melihat konstelasi politiknya kemungkinan akan ada satu poros lagi,” ucap Adi.


Salah satu nama yang cukup santer, menurut Adi, adalah Achsanul Qosasi. Adi mengatakan, Achsanul dianggap punya cukup peluang mengingat auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) itu juga menjabat sebagai Presiden Madura United. Menurut Adi, Madura dan kawasan di sekitarnya menjadi salah satu faktor penentu pemenangan pilgub Jatim.

“Ahsanul katanya sedang dirayu beberapa partai. Kalau Ahsanul maju, pemilih di tapal kuda pasti cenderung memilih dia karena unsur kedaerahan masyarakat di sana cukup kuat,” tuturnya.

Pertimbangan itulah, kata Adi, yang mesti dipikirkan sejumlah partai seperti Gerindra, PAN, dan PKS yang belum memberikan dukungan untuk mengusung poros alternatif dalam pilgub Jatim.


Namun Adi menegaskan, jika tak ada figur cukup kuat untuk diusung besar kemungkinan pasangan yang akan maju hanya Gus Ipul-Azwar Anas dan Khofifah-Emil Dardak.

“Kalau belum ada yang dianggap cocok dan kuat, mungkin tetap mengerucut pada dua pasangan saja,” tuturnya. (pmg/gil)