Analisis

Bau Politik Pidato Amien Rais di Panggung 212

Riva Dessthania Suastha & Wishnugroho Akbar , CNN Indonesia | Jumat, 01/12/2017 13:18 WIB
Bau Politik Pidato Amien Rais di Panggung 212 Pidato Amien Rais di acara Kongres Alumni 212, Kamis (30/11) kemarin, dinilai bisa memecah belah umat Islam. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pidato pendiri Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais, dalam gelaran Kongres Nasional Alumni 212, kemarin, justru dianggap memecah belah dari pada menyatukan masyarakat, terutama umat Islam di Indonesia. Pidato Amien juga dinilai kental muatan politik.

Amien dalam pidatonya berulangkali menyindir pemerintahan Presiden Joko Widodo dan mengagungkan perjuangan gerakan Aksi Bela Islam pada 2 Desember 2016 lalu yang menuntut proses hukum terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dianggap menistakan agama Islam.

Dia menegur Presiden Jokowi untuk tidak menjual murah aset negara, serta menyindir para pendukung Jokowi yang selama ini dikenal dengan sebutan kecebong.

"Kita ini hanya ditantang oleh cebong-cebong itu sudah biasa, jangan takut. Jangan sampai mereka meremehkan kemampuan berpikir kita. Kita enggak gampang dikibulin, kita lebih cerdas," katanya.
Hendri Satrio, pengamat komunikasi politik dari Universitas Paramadina menyebut kritik terhadap pemerintah adalah hal yang wajar, namun harus dilakukan secara tepat. Untuk konteks Amien, Hendri menilai apa yang diucapkan Amien dalam pidato kemarin tidak tepat.

"Amien Rais sebagai tokoh reformasi sebaiknya memanfaatkan pengaruhnya untuk satukan umat," kata Hendri kepada CNNIndonesia.com pada Jumat (1/12).

"Pidato dan acara kemarin tidaklah menyatukan umat karena isinya itu orasi politik kan dan bukan agama," imbuh Hendri.

Menurut Hendri, acara kongres Alumni 212 yang berlangsung kemarin dan baru akan berakhir nanti malam, juga dirasa kurang tepat karena terus membawa embel-embel 411 dan 212. Hal tersebut, kata dia, justru bisa memicu eksklusivitas suatu kelompok.

"411 dan 212 itu kan sudah selesai. Kalau mau kumpulkan umat ya tidak usah bawa nama 411 atau 212. Gerakan 212 boleh diperingati tapi jangan menjadikan itu sebagai sebuah identitas yang akhirnya membuat kelompok eksklusif dan akhirnya seperti tidak terima umat Islam lainnya karena tidak berpartisipasi dalam event itu," kata Hendri.
Hendri melanjutkan, Amien seharusnya bisa lebih bijak lagi dalam bersikap jika memang tujuannya ingin mengkritik pemerintahan Jokowi.

Jika ditujukan untuk menyatukan umat, Hendri mengatakan, acara kongres Alumni 212 seharusnya bisa dikemas lebih umum lagi dengan dibentuk menjadi acara yang lebih bermanfaat seperti pengajian akbar dan acara keagamaan lainnya.

Manuver Menuju 2019

Kongres Alumni 212 merupakan bagian dari rangkaian menuju acara Reuni Alumni 212 yang akan digelar esok, di Monas. Acara itu sedianya juga akan menghadirkan Amien Rais.

Ketua Panitia Reuni Alumni 212 Bernard Abdul Jabbar sebelumnya menyatakan meski dihadiri berbagai tokoh politik, acara reuni alumni 212 tak terkait konsolidasi politik.

"Ada yang bilang katanya Amien Rais hadir, si ini hadir, si itu hadir, mau ada agenda politik, enggak ada itu, kami mau silaturahmi sekalian mengisi agenda Maulid Nabi bersama," katanya.

Bau Politik dan Efek Pidato Amien Rais di Panggung 212Amien Rais saat bertemu pemimpin FPI Rizieq Shihab beberapa waktu lalu. (Dok. Istimewa)
Pernyataan itu disampaikan untuk membantah pernyataan Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang juga menyebut acara Reuni 212 berkaitan dengan politik, terutama terkait pilkada serentak 2018 dan pemilu 2019.
Hendri sendiri lebih setuju dengan pendapat Kapolri. Dia menilai, reuni 212 esok tidak lepas dari momen Pilpres 2019 mendatang. 

Dia juga tidak menyebut secara spesifik kepentingan apa yang diusung Amien Rais dan Alumni 212 terkait dengan Pilpres 2019. 

"Masih jauh kemungkinan Amien membidik panggung pilpres. Saya rasa Amien juga tidak punya skenario ke situ," tuturnya.

Secara lebih umum, Direktur Eksekutif SETARA Institute Hendardi menilai acara reuni alumni 212 sebagai gerakan politik. 

Menurut Hendardi, kontinuitas gerakan ini akan menjadi arena politik baru yang bakal terus dibangkitkan sejalan dengan agenda-agenda politik formal kenegaraan. 

Targetnya adalah menguasai ruang publik (public space) untuk menaikkan daya tawar politik mereka, baik kepada para pemburu kekuasaan atau dengan kelompok politik yang sedang memerintah. 

"Bagi mereka ruang publik adalah politik. Jadi, meskipun gerakan ini tidak memiliki tujuan yang begitu jelas dalam konteks mewujudkan cita-cita nasional, gerakan ini akan terus dikapitalisasi," ujar Hendardi dalam keterangan pers yang diterima CNNIndonesia.com.

Hendardi juga menyayangkan gerakan 212 yang menggunakan instrumen agama Islam. Strategi semacam itu dikhawatirkan Hendardi bisa menghilangkan rasionalitas umat dalam beragama dan menjalankan hak politiknya.

Di sisi lain, dia berpendapat gerakan 212 saat ini perlahan mulai kehilangan dukungan sejalan dengan meningkatnya kesadaran warga.

Warga disebut Hendardi mulai sadar untuk menjauhi praktik politisasi identitas agama untuk merengkuh dukungan politik atau menundukkan lawan-lawan politik. 

"Jadi, kecuali untuk kepentingan elit 212, maka gerakan ini sebenarnya tidak relevan menjawab tantangan kebangsaan dan kenegaraan kita," kata dia. (wis)