Cegah Difteri, Menkes Ingatkan Warga Gunakan Vaksin Resmi

Mesha Mediani, CNN Indonesia | Senin, 11/12/2017 10:21 WIB
Cegah Difteri, Menkes Ingatkan Warga Gunakan Vaksin Resmi Menkes Nila F Moeloek mengatakan, banyak kemungkinan oknum-oknum tidak bertanggungjawab yang memanfaatkan kesempatan merebaknya penyakit Difteri ini untuk menciptakan vaksin palsu dan meraih keuntungan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nila F. Moeloek mengimbau agar warga menggunakan vaksin resmi dari Kemenkes, yakni dari PT Biofarma dalam imunisasi penyakit Difteri.

Demikian disampaikan dia dalam pembukaan pencanangan outbreak Response Immunization (ORI) sebagai langkah preventif spesifik untuk mencegah difteri, penyakit yang sudah masuk dalam kategori kejadian luar biasa (KLB).

"Vaksin difteri, kita sudah punya, jadi tolong memakai vaksin yang berasal dari PT Biofarma dan dari domestik," kata Nila di SMAN 33 Jakarta, Senin (11/12).


Sehingga, rumah sakit pemerintah atau swasta yang menginginkan bahan imunisasi, bisa langsung memintanya ke Kemenkes.

Nila mengatakan, banyak kemungkinan oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan kesempatan merebaknya penyakit Difteri ini untuk menciptakan vaksin palsu dan meraih keuntungan.

Tidak seperti vaksin, Nila mengakui, Indonesia belum mampu memproduksi Anti Difteri Serum (ADS), yakni obat difteri paling efektif yang stoknya memang masih jarang.

Menurut Nila, biaya pengadaan ADS cukup tinggi, yakni Rp4 juta untuk satu pasien. Ia juga belum bisa memastikan BPJS kesehatan mampu memfasilitasi kebutuhan ADS.

"Ini kita belum tahu siapa yang akan bertanggung jawab. Apakah BPJS akan membayar, masih harus kita perhitungkan kembali karena ini kejadian luar biasa dan harus kita pikirkan perhitungannya," kata Nila.

Adapun ORI dilaksanakan sebanyak tiga putaran dengan sasaran anak usia 1 sampai 19 tahun dengan interval 0-1-6 bulan.

Penyuntikan ORI akan dimulai serentak di Jakarta Barat dan Jakarta Utara mulai minggu kedua bulan Desember 2017 untuk putaran pertama. Putaran kedua dilakukan minggu kedua Januari 2018, serta putaran ketiga pada minggu kedua Juni 2018.

Nila menjelaskan, difteri adalah penyakit infeksi akibat bakteri Corynebacterium diptheriae dan memiliki masa inkubasi 2 sampai 5 hari. Fatalnya bisa menyebabkan kematian.

"Gejalanya, anak ini demam tidak terlalu tinggi, 38 derajat. Tapi ada timbul selaput di kerongkongan, di laring yang menyebabkan kerongkongan kita tertutup dan tidak bisa nafas," kata Nila.

Sehingga, bakteri tersebut akan menyebabkan gangguan di jantung dan syaraf yang menyebabkan pelemahan otot dan kematian.

"Ini yang kami katakan, hak seorang anak bukanlah kematian," kata Nila.

Sementara Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, dalam pencanangan imunisasi difteri serentak ini, akan menjangkau 1,2 juta orang di Jakarta.

Adapun wilayah terbanyak ditemukan di Jakarta Utara dan Jakarta Barat, tetapi tidak ditemukan di Kepulauan Seribu. Kasusnya di Jakarta selalu meningkat tiap tahunnya.

Pada 2015 terjadi sembilan kasus, pada 2016 terjadi 17 kasus, dan per hari ini, telah terjadi 25 kasus dan menyebabkan dua orang meninggal dunia.

Oleh sebab itu, Anies berjanji vaksinasi akan terus diberikan secara cuma-cuma untuk warga dan secara bertahap akan dilakukan di ruang publik mana saja, seperti puskesmas dan rumah sakit.

"Bahkan kita akan buka di mal-mal," ujarnya. (djm/djm)