"Untuk sementara diduganya difteri, ternyata (meninggalnya) mungkin penyakit lain," kata Direktur Utama (Dirut) RSUD Serang dr Agus Gusmara, Selasa (26/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini kelihatannya ada penyakit lain. Sementara diduga difteri, ternyata mungkin penyakit lain," ungkapnya.
Agus menuturkan, saat dokter melakukan pemeriksaan awal, ditemukan membran mirip difteri di tenggorokan. Kemudian, dokter memberikan antidifteri serum (ADS), meski belum dinyatakan positif difteri.
"Dikasih ADS, karena secara klinis mirip. Takut kecolongan," kata Agus.
Selama di ruang isolasi, kondisi Aufatul tidak stabil. Pada tanggal 14 Desember 2017, kondisi Aufatul semakin menurun. Pada awal masuk RSUD, kadar hemoglobin (HB) pasien mencapai 9,8 gr/DL, tapi ketika menjalani perawatan turun hingga mencapai angka 6 gr/DL.
Kata Agus, dokter lalu memberikan transfusi darah. Pada 16 Desember 2017, kondisi HB-nya naik menjadi 7,8 gr/DL.
Kondisi Aufatul kembali turun pada 21 Desember 2017, dengan kadar HB hanya 7,5 gr/DL dan semakin turun pada 22 Desember 2017 dengan jumlah HB hanya 6 gr/DL.
Menurut Agus, pada tanggal itu, RSUD dr Dradjat Prawiranegara mendapat kabar bahwa Aufatul dinyatakan negatif difteri.
Dokter kemudian memindahkan Aufatul ke ruang rawat Dahlia, ruang rawat biasa, pada 23 Desember 2017.
"Dia harus dikeluarkan, mau ditransfusi. Ditransfusi di ruangan (rawat biasa). Meninggalnya tanggal 24 Desember, kelihatannya belum keburu ditransfusi," ujarnya.
Lihat juga:Anies Makin Gencar Cegah Difteri di Jakarta |