RSUD Sebut Mahasiswi UIN Meninggal karena Kekurangan Cairan

Djibril Muhammad & CNN Indonesia , CNN Indonesia | Rabu, 27/12/2017 14:54 WIB
RSUD Sebut Mahasiswi UIN Meninggal karena Kekurangan Cairan Petugas Dinas Kesehatan Pemprov Banten memasukan vaksin DPT (Difteri, Tetanus, dan Pertusis) anti penyakit difteri ke jarum suntik di Posyandu Cempaka, Kaujon, Serang, Banten. (Ilustrasi/ANTARA FOTO/Asep/Fathulrahman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dokter Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Drajat Prawiranegara Serang, Banten, menduga mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Aufatul Khuzzah (19) meninggal bukan karena difteri.

"Untuk sementara diduganya difteri, ternyata (meninggalnya) mungkin penyakit lain," kata Direktur Utama (Dirut) RSUD Serang dr Agus Gusmara, Selasa (26/12).

Agus menduga, Aufatul meninggal karena mengalami Hypovolemic ec melena ec myocardiris ec acidosis atau kekurangan cairan di dalam tubuh.

Kata Agus, semasa perawatan, Aufatul mengeluarkan darah dari saluran anus, yang disebabkan infeksi otot jantung, karena cairan di dalam tubuh terlalu asam.

"Ini kelihatannya ada penyakit lain. Sementara diduga difteri, ternyata mungkin penyakit lain," ungkapnya.

Aufatul sempat menjalani perawatan di RSUD Dradjat Prawiranegara Serang. Ketika itu, Aufatul yang diduga suspect difteri, langsung dirawat ke ruang isolasi, karena memiliki gejala yang mirip dengan difteri.

Warga Kampung Laban, RT 008 RW 003, Desa Cerukcuk, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, Banten, yang berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu, masuk ke RSUD dr Dradjat Prawirangera pada 9 Desember 2017.

Agus menuturkan, saat dokter melakukan pemeriksaan awal, ditemukan membran mirip difteri di tenggorokan. Kemudian, dokter memberikan antidifteri serum (ADS), meski belum dinyatakan positif difteri.

"Dikasih ADS, karena secara klinis mirip. Takut kecolongan," kata Agus.

Selama di ruang isolasi, kondisi Aufatul tidak stabil. Pada tanggal 14 Desember 2017, kondisi Aufatul semakin menurun. Pada awal masuk RSUD, kadar hemoglobin (HB) pasien mencapai 9,8 gr/DL, tapi ketika menjalani perawatan turun hingga mencapai angka 6 gr/DL.

Kata Agus, dokter lalu memberikan transfusi darah. Pada 16 Desember 2017, kondisi HB-nya naik menjadi 7,8 gr/DL.

Kondisi Aufatul kembali turun pada 21 Desember 2017, dengan kadar HB hanya 7,5 gr/DL dan semakin turun pada 22 Desember 2017 dengan jumlah HB hanya 6 gr/DL.

Menurut Agus, pada tanggal itu, RSUD dr Dradjat Prawiranegara mendapat kabar bahwa Aufatul dinyatakan negatif difteri.

Dokter kemudian memindahkan Aufatul ke ruang rawat Dahlia, ruang rawat biasa, pada 23 Desember 2017.

"Dia harus dikeluarkan, mau ditransfusi. Ditransfusi di ruangan (rawat biasa). Meninggalnya tanggal 24 Desember, kelihatannya belum keburu ditransfusi," ujarnya.

(yan)