Menurut dia, PPP sebagai salah satu partai politik tertua harus menjadi bagian untuk mengoreksi jalannya demokrasi yang rusak.
"Tapi persoalannya, kita overdosis. Makan dan minum saja berlebihan dilarang, apalagi demokrasi," kata Romi dalam pidatonya di Kantor DPP PPP, Jalan Diponegoro, Jakarta, Jumat (5/1) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita harus meluruskan, kembalikan rel demokrasi Indonesia kepada rel yang diinginkan pendiri bangsa," tuturnya.
"Repotnya hari ini di dapil saya. Kalau ditanya mau milih siapa? Nunggu wangsit, (artinya) uang disit. Kalau enggak ngasih apa-apa, saya malah didalilkan. Barang siapa yang beri sesuatu dengan diniatkan kebaikan, akan dimudahkan," tuturnya.
"Jadi ini persoalan hari ini. Ada uang abang disayang, enggak ada uang abang melayang," kata Romi menambahkan.
Fenomena tersebut, menurut Romi, yang membuat praktik korupsi tumbuh subur dan sulit dihilangkan. Bahkan, Romi menyebut, berdasarkan hasil penelitian Burhanudin Muhtadi, Indonesia menjadi negara nomor dua setelah Uganda dalam hal praktik politik uang dari 47 negara demokrasi.
"Maka pusaran korupsi enggak akan pernah selesai, enggak akan pernah berhenti," tuturnya.