Gunawan Budi, karyawan salah satu restoran di Lantai 1 Tower II BEI, mengungkapkan, sejak ia bekerja di kawasan itu pada 2001 selasar yang runtuh tersebut memang terbilang tidak banyak dilalui. Terlebih, tidak terdapat jalur untuk turun dari selasar tersebut.
"Itu kan jalur sepi sebenarnya, tidak pernah dilewati orang banyak," tutur dia, saat ditemui di Halte BEI, Jakarta, Selasa (16/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Restoran tempat Gunawan bekerja berada di samping kantor BRI atau di belakang selasar yang runtuh.
Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh di gedung tersebut. Gunawan menduga suara itu merupakan suara alat untuk tim pembersih kaca gedung yang jatuh. Namun dia heran karena suara tersebut tidak juga berhenti.
"Ternyata selasar roboh," imbuhnya.
Pihak restoran pun memilih untuk membobol tembok dapur yang dapat menyambungkan ke pintu keluar. Gunawan mengaku, berhasil mengevakuasi sebanyak 12 orang pekerja dari BRI.
"Ada 12 orang yang kami evakuasi dari BRI, hanya 12 karena kalau kebanyakan takutnya roboh lagi," ujar dia.
Gunawan mengaku, kedatangannya hari ini hanya untuk mengecek kembali dokumen, uang kasir, serta kondisi listrik di restoran itu. Pengecekan itu dilakukan hanya 15 menit dengan ditemani petugas kepolisian.
Selain itu, dia juga ingin memastikan kapan dapat kembali bekerja usai kejadian yang memakan 77 korban itu.
Dari peristiwa itu, Gunawan mengklaim, pihaknya mengalami kerugian kurang lebih Rp1 juta karena konsumen belum sempat membayar makanan yang sudah dipesan.
[Gambas:Video CNN] (arh/djm)