Gubernur Jawa Timur Nyatakan Jatim KLB Difteri

& CNN Indonesia, CNN Indonesia | Jumat, 19/01/2018 05:30 WIB
Gubernur Jatim Soekarwo menyebut, KLB difteri di Jatim sebagai sebuah anomali. Dia mengajak masyarakat bergerak sama memberantas difteri. Gubernur Jatim Soekarwo menyebut, KLB difteri di Jatim sebagai sebuah anomali. Dia mengajak masyarakat bergerak sama memberantas difteri. (CNN Indonesia/Resty Armenia).
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur Jawa Timur Soekarwo atau yang karib disapa Pakde Karwo menyatakan bahwa Jatim saat ini berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit difteri. Catatan Dinas Kesehatan Jatim, penyakit yang disebabkan bakteri itu menyebar di 14 kabupaten dan kota.

"Lima daerah dengan jumlah penderita tertinggi, lebih dari 21 pasien, berada di Kabupaten Sampang, Gresik, Nganjuk, Pasuruan, dan Kota Surabaya," tutur Pakde Karwo, Kamis (18/1).

Pakde Karwo melanjutkan, sementara di sembilan daerah lainnya, jumlah penderita di bawah 21 orang. Sembilan daerah tersebut yakni Bojonegoro, Sidoarjo, Jombang, Batu, Kota Malang, Kabupaten Malang, Lumajang, Kabupaten Blitar, dan Kota Blitar.


"Untuk penanganan kasus dan memutus rantai difteri, Pemprov Jatim mengalokasikan anggaran Outbreak Response Immunization (ORI), dengan 82 persen untuk operasional sesuai kebutuhan kabupaten/kota," katanya.


"Kira-kira kebutuhan anggaran untuk penanganan sebesar Rp 98 miliar. Jumlah itu dengan skema pembiayaan sharing antara provinsi dan daerah masing-masing 50 persen," ucap Pakde Karwo.

Anggaran tersebut untuk kegiatan vaksin imunisasi anak berusia 1-19 tahun di seluruh Jatim sebanyak 10.717.765 orang. Imunisasi diberikan sebanyak tiga kali dengan interval 5 bulan.

Soekarwo menyebut, KLB difteri di Jatim sebagai sebuah anomali, saat perekonomian masyarakat Jatim mulai terlihat membaik beberapa tahun terakhir.

"Saya sedih tiba-tiba ada anomali difteri, karena itu saya ajak semua kabupaten dan kota untuk bergerak bersama-sama memberantas difteri," ujar Pakde Karwo.

Sementara itu, Bupati Jember, Faida juga menetapkan status KLB di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Ada empat kasus penyakit difteri tanpa ada korban meninggal pada 2017.

"Status KLB ini untuk memproteksi daerah Jember secara epidemologi dan menyelamatkan generasi dari kasus difteri," tuturnya.


Dibandingkan 38 kabupaten dan kota lainnya, jumlah kasus difteri di Jember terbilang rendah di bawah Kabupaten Madiun (2 kasus), Kota Madiun, Bondowoso, Pacitan, Ponorogo, dan Trenggalek (3 kasus).

Cenderung Turun

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, jumlah penderita difteri di Jember cenderung turun. Jika pada 2012 ditemukan 58 kasus dengan satu pasien meninggal dunia, maka pada 2013 terjadi penurunan menjadi 46 kasus. Namun saat itu jumlah pasien meninggal meningkat menjadi lima kasus.

Tahun 2014, jumlah kasus menurun menjadi 12 kasus dengan tiga pasien meninggal dunia. Setahun kemudian, hanya tersisa delapan kasus dan tanpa korban meninggal dunia. Dua tahun berikutnya, 2016 dan 2017, hanya ditemukan masing-masing empat kasus dengan jumlah korban meninggal nihil.

Faida memerintahkan adanya gropyokan (kerja bersama) yang melibatkan seluruh fasilitas kesehatan, fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dan fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKTL) untuk melakukan imunisasi dengan usia sasaran 1-19 tahun.

"Gerakan ini melibatkan seluruh posyandu, puskesmas, fasilitas kesehatan, TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, universitas, dan pondok pesantren," ujarnya.


Sedangkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, akan melakukan imunisasi massal dengan pemberian vaksin untuk mencegah penyakit difteri melalui program Outbreak Response Immunization (ORI). Langkah ini dilakukan sebagai respon cepat terhadap berkembangnya kasus difteri di Indonesia.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya Febria Rachmanita mengatakan, tahun 2017, Surabaya ada 29 kasus difteri, dimana hasil lab sebanyak 28 dinyatakan negatif. Namun, hingga akhir desember 2017 ada satu yang dinyatakan positif.

"Nanti kita akan lakukan program ORI diseluruh tingkat kecamatan dan kelurahan, kita lakukan secara massal," tuturnya.

Sasaran dari program ORI, kata dia, usia satu hingga dibawah 19 tahun. Penyakit difteri ini sangat mengerikan dan bisa menyebabkan kematian.

Menurutnya, jika seseorang terkena penyakit difteri akan mengalami kondisi demam, sakit pada tenggorokan, kemudian dipangkal tenggorokan terdapat selaput abu-abu yang bisa membesar dan menyumbat aliran saraf dan jantung, sehingga dapat menyebabkan kematian.

“Kita punya sasaran untuk yang dibawah 19 tahun mencapai sekitar 753.498 orang. Usia 19 tahun kurang sehari juga tetap akan kita lakukan imunisasi,” katanya.

Data dari Dinkes menyebutkan, tahun 2017 penyakit difteri menyerang usia dibawah 10 tahun mencapai 24 orang, sedangkan usia 26 hingga 30 tahun sebanyak 3 orang, dan terakhir satu orang dengan usia lebih dari 60 tahun. Seseorang bisa terkena penyakit difteri dikarenakan imunisasi dasarnya tidak lengkap. (dik/osc)