Hal itu diungkapkan peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Rully Akbar dalam pemaparan hasil survei 'Lima Isu Partai Politik Terkini di Tahun Politik', di Kantor LSI Deny JA, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (24/1).
"PKB dan Partai Demokrat masih bersaing di posisi nomor empat,” ujar Rully.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diketahui, hasil survei LSI Deny JA sejak Agustus 2017 menunjukan Demokrat dan PKB saling susul satu sama lain untuk memperebutkan posisi keempat.
Keadaan berbalik pada Desember 2017, Demokrat menyalip dengan elektabilitas 5,8 persen dan PKB mendapat 5,5 persen.
Lalu pada survei saat ini Demokrat masih memimpin dengan mendapat 6,2 persen dan PKB mendapat 6,0 persen.
"Perbedaan elektabilitas kedua partai ini hanya dalam hitungan nol koma," ujar Rully.
Rully menilai, PKB maupun Demokrat memiliki isu maupun daya tarik masing-masing dalam menggaet pemilih.
PKB dinilai masih diuntungkan isu ke-Islam-an yang sempat menguat sejak Pilgub DKI 2017. Hal ini dikarenakan PKB memiliki basis massa dari kalangan Islam khususnya kelompok Nahdlatul Ulama (NU).
AHY merupakan anak presiden keenam sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY.
"Jika Partai Demokrat menemukan isu baru yang menggugah, maka peluang partai ini di atas PKB juga besar," ujar Rully.
Elektabilitas Naik Jika Jadi Cawapres
Rully mengatakan, elektabilitas Demokrat dan PKB akan terdongkrak jika berhasil mengusung figur kader dari internal partai sebagai calon wakil presiden (cawapres) yang maju di Pilpres 2019.
"Manuver Muhaimin dan AHY sebagai cawapres di pemilu 2019 nanti juga akan mempengaruhi elektabilitas kedua partai," kata Rully.
Meski begitu, Demokrat dinilai masih berpeluang membentuk koalisi baru sebagai kompetitor koalisi Jokowi di Pilpres 2019.
"Semua partai pasti mengajukan kader terbaiknya mendampingi Jokowi, termasuk PKB dan Demokrat. Mereka sedang berlomba-lomba menjadi cawapres Jokowi," pungkas Rully. (djm)