Di sela pembagian sertifikat tanah di Sentul, Selasa (6/3) kemarin, Jokowi mengaku bingung menyikapi fitnah yang terus disebarkan tersebut. Mantan Gubernur DKI itu heran isu keberadaan kader PKI masih dipakai hingga saat ini.
Pasalnya PKI dibubarkan pada tahun 1965, sementara ia lahir pada tahun 1961. Artinya, ia merasakan era PKI saat berusia di bawah lima tahun (balita).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah peserta diskusi pun protes. Alasannya, tidak ada agenda deklarasi dalam undangan yang mereka terima.
Lihat juga:Diskusi Soal Kebangkitan PKI Berakhir Ricuh |
Pengamat politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Arie Sudjito menilai, isu kebangkitan PKI terlalu mengada-ada. Menurut Arie, isu itu sengaja dimunculkan kembali untuk menciptakan keresahan di masyarakat.
"Isu ini memang sengaja ditiupkan, ya tentu karena tahun politik, ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab melemparkan isu ini," ujar Arie kepada CNNIndonesia.com, Rabu (7/3).
Arie mengatakan isu kebangkitan PKI sebenarnya tak relevan lagi dimunculkan. Saat ini permasalahan yang lebih penting untuk dihadapi, kata dia, adalah kemiskinan, korupsi, ketimpangan sosial, hingga percepatan pembangunan.
Lihat juga:Kivlan Zen Tuding PDIP Banyak Menampung PKI |
Arie memprediksi isu ini akan terus 'digoreng' hingga pemilihan presiden 2019. Namun ia meyakini masyarakat sudah lebih cerdas dengan tak terjebak lebih jauh pada isu kebangkitan PKI. Ia pun menyarankan Jokowi tak perlu menanggapi lebih lanjut isu tersebut.
"Pak Jokowi sebaiknya tidak usah menanggapi. Kalau bereaksi berlebihan yang mancing itu justru senang. Padahal sudah enggak ada (PKI)," kata Arie. (dal/kid)