Pimpinan JAD Sebut Aman Abdurrahman Tolak Sistem Demokrasi

Feri Agus, CNN Indonesia | Jumat, 09/03/2018 12:28 WIB
Pimpinan JAD Sebut Aman Abdurrahman Tolak Sistem Demokrasi Pimpinan JAD Zainal Anshori dihadirkan sebagai saksi sidang lanjutan terdakwa bom Thamrin, Aman Abdurahmman di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (9/3). (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pimpinan Jamaah Anshorut Daulah (JAD), Zainal Anshori mengatakan terdakwa dalang serangan bom Thamrin, Oman Rochman alias Aman Abdurrahman menyebut bahwa sistem demokrasi adalah sirik dan menyerukan untuk melepaskan diri dari sistem yang diterapkan Indonesia itu.

Hal tersebut diketahui saat tim jaksa penuntut umum membacakan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Anshori dalam sidang lanjutan Aman di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (9/3).

Anshori membenarkan keterangan dirinya yang dibacakan jaksa tersebut.


"Dikupas bahwa demokrasi termasuk sirik afdal, yang bisa membatalkan keislaman seseorang. Sedangkan yang masuk dalam sirik afdal itu sendiri yaitu, menyembah berhala, berdoa kepada selain Allah, berkorban kepada selain Allah, mentaati hukum selain hukum Allah. Sehingga wajib bagi setiap muslim untuk melepaskan diri dari sistem sirik demokrasi ini," kata jaksa.

Jadi, kata jaksa, inti dari seri materi tauhid baik dari buku-buku ustaz Aman maupun tausiah dari mp3 tersebut adalah menggalakan siriknya demokrasi dan wajibnya melepas diri dari sistem demokrasi.

Jaksa kemudian bertanya kepada Anshori, "Jadi yang dimaksud, saudara kan sering ikut ceramah terdakwa, apa yang dimaksud wajibnya berlepas diri dari sistem demokrasi?"

"Tidak terlibat, tidak mengikuti aturan tersebut," kata Anshori.

Anshori kemudian menjelaskan tidak terlibat dan menolak sistem demokrasi yang diterapkan Indonesia saat ini salah satunya dengan tidak memilih saat pemilihan umum (Pemilu) maupun pemilihan kepala daerah (Pilkada) berlangsung.

"Ya kita tidak terlibat dalam pesta-pesta demokrasi, pemilihan, kita tidak ikut," kata dia.
Menurut Anshori, orang-orang yang mengikuti sistem demokrasi oleh kelompoknya disebut kafir.

Dia mengatakan konsekuensi mereka yang menerapkan sistem demokrasi berdasarkan hukum Allah akan masuk neraka.

Anshori mengakui bahwa Aman merupakan gurunya. Anshori mengenal Aman dalam sebuah pengajian beberapa tahun silam.

Menurut pria yang telah divonis tujuh tahun penjara itu ceramah-ceramah yang kerap disampaikan Aman adalah soal tauhid.

Setelah beberapa kali mengikuti pengajian dan mengenalnya, Anshori mengatakan pernah meminta Aman memberikan ceramahnya di daerahnya.

Aman, kata Anshori juga mengeluarkan buku seri materi tauhid.

Bahkan, ketika Aman menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Anshori mengaku sempat beberapa menjenguknya. Dia menjenguk dengan beberapa orang lainnya.

Menurut Anshori, ketika menjenguk, Aman masih kerap menyampaikan tausiah kepada mereka yang datang ke Nusakambangan.

"Biasa seperti itu, beliau setiap bertemu memberikan tausiah. Tetapi dalam penjelasannya kadang-kadang menjawab pertanyaan yang kita ajukan," ujarnya.

Anshori sendiri divonis tujuh tahun penjara lantaran terbukti dalam penyelundupan senjata api dari Filipina Selatan. Senjata tersebut antaranya diserahkan ke kelompok Afif untuk melakukan teror bom Thamrin.

Sedangkan Aman didakwa sebagai dalang teror bom Thamrin pada Januari 2016 lalu. Selain itu, Aman juga didakwa sebagai dalang aksi teror di Indonesia dalam rentang waktu sembilan tahun terakhir.

Dalam dakwaan jaksa penuntut umum, Aman didakwa hukuman mati atas tindakannya mendalangi sejumlah aksi terorisme.
(ugo)