Surabaya Black Hat Sering Bantu Proyek TI Instansi Pemerintah

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Rabu, 14/03/2018 16:39 WIB
Surabaya Black Hat Sering Bantu Proyek TI Instansi Pemerintah Tiga orang hacker anggota Surabaya Black Hat di Polda Metro Jaya. (ANTARA FOTO/Reno Esnir)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penasihat Surabaya Black Hat, Zulham Akhmad Mubarrok mengatakan organisasinya kerap membantu proyek-proyek yang berkaitan dengan teknologi informasi (TI) dari sejumlah instansi pemerintah.

Kata Zulham, sejak berdiri pada 2011 Surabaya Black Hat terlibat membantu instansi pemerintah menghadapi serangan peretas atau hacker.

"Jadi ketika ada hacker dari negara tetangga mencoba menjebol situs-situs resmi milik instansi apapun di Indonesia, kami secara sukarela akan memproteksi, hingga menyerang balik," kata Zulham di Surabaya, Rabu (14/3).


Bahkan, kata Zulham, tiga orang anggota Surabaya Black Hat yang ditangkap polisi, yakni KPS (21), NA (21), dan ATP (21), juga sering dilibatkan dalam proyek itu.

Tiga anggota yang ditangkap tim Satgas Cyber Crime Polda Metro Jaya di Surabaya itu, selama ini aktif di Surabaya Black Hat.

Ketiga orang yang masih berstatus mahasiswa itu ditangkap polisi karena meretas ratusan situs internet dan sistem elektronik untuk meminta 'uang tebusan' dari korbannya. Pemilik sistem elektronik atau situs yang diretas bisa membayar tebusan kepada ketiganya melalui Paypal atau Bitcoin. Bila mereka tidak membayar maka situs dan sistem elektronik akan dihancurkan.


Zulham mengatakan aksi ketiganya di luar aturan organisasi. Menurutnya, Surabaya Black Hat merupakan organisasi biasa yang membahas terkait aspek-aspek Teknologi Informasi.

"Kami berdiri sejak tahun 2011. Saat itu yang memprakarsai ada belasan orang, baik dari Surabaya maupun Malang dan beberapa kota lain di Jawa Timur," katanya.

Dari ketiga anggota yang ditangkap, kata Zulham, yang paling lama menjadi anggota Surabaya Black Hat adalah KPS.

"Sementara NA dan ATP menyusul kemudian," tuturnya.

Dia mengatakan hingga saat ini anggota Surabaya Black Hat yang aktif pada forum diskusi terbuka, mencapai 2.000 orang. Sedangkan anggota yang aktif kopi darat di Surabaya, hanya puluhan orang saja.

"Jadi, kegiatan kita, 90 persen adalah kegiatan IT positif. Jika ada yang melakukan pelanggaran UU ITE maupun kriminal lainnya, itu diluar ketentuan kami. Sebab sejak berdiri, kami terapkan aturan tegas di dalam grup," ucapnya.

Surabaya Black Hat memiliki sejumlah komunitas lainnya, antara lain Indonesian Coder, Malang Cyber Crew, dan masih banyak lagi.

"Jadi sekali lagi, SBH adalah IT secara positif. Sebab kami selalu mengadakan pertemuan rutin untuk mengarahkan para hacker milenial agar dapat mengaplikasikan kemampuannya pada hal yang positif," ujarnya.

(dik)