Air Tanah, Anies dan Derita 'Karat Besi' Warga Kalideres

JNP, CNN Indonesia | Kamis, 15/03/2018 07:41 WIB
Air Tanah, Anies dan Derita 'Karat Besi' Warga Kalideres Ilustrasi air bersih yang dijual. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Warga Tegal Alur dan Pegadungan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat mengeluhkan minimnya pasokan air bersih. Air tanah tersebut selain keruh, menimbulkan bau karat besi.

Hal tersebut disampaikan salah satu warga Tegal Alur, Mardiyana. Perempuan yang tinggal hampir 19 tahun di kawasan itu menuturkan dirinya tidak mau menggunakan air tanah untuk dikosumsi sehari-hari.


Dia menambahkan menggunakan air tanah hanya untuk kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK).


"Saya tidak mau mengonsumsi air tanah di sini. Saya lebih suka air pikulan, tapi saya masak lagi. Air tanah di sini juga buat kebutuhan MCK saja, tapi sayang kalau bajunya putih. Lama lama bisa kuning," kata dia saat ditemui CNNIndonesia.com, Rabu (14/3).

Dia juga mengeluhkan bagaimana air pun sulit ketika musim kemarau. Sampai sekarang, pemipaan PAM belum masuk ke daerahnya. "Musim kemarau sering dua sampai tiga hari airnya kering. Ya mau tidak mau beli air pikulan, tapi itu lumayan mahal," katanya.


Warga di kawasan itu seringkali harus membeli air dari penjual air keliling dengan kocek yang lumayan mahal. Dalam sebulan, Mardiyana menyebut dalam bisa menghabiskan Rp 900 ribu untuk membeli air bersih.

"Biasanya saya beli satu pikul (dua jeriken) Rp6 ribu. Sehari bisa habis Rp30 ribu. Artinya sehari bisa enam pikul (12 jeriken)," terang Mardiyana.

Menurut Mardiyana, pengeluaran Rp900 ribu itu makin menyulitkan kehidupan rakyat kecil seperti dirinya. Dia juga meminta agar pemerintah DKI menyediakan pipa PAM agar bisa menggunakan air PAM di seluruh kecamatan Kalideres.

"Kami harap pemerintah memperbaiki, jangan sampai mengecewakan masyarakat, sekarang kebutuhan pokok juga sudah pada mahal. Lebih enak zaman Soeharto deh meskipun agak korupsi," katanya.


Air Tanah, Anies dan Derita 'Karat Besi' Warga KalideresIlustrasi alat pengukur penggunaan air. (CNN Indonesia/Yuliawati)


Tak Layak Konsumsi

Warga lain, Kuriah di Kelurahan Pegadungan menyebut air tanah di wilayah mereka mencukupi kebutuhan. Akan tetapi, air tersebut tetap tidak layak dikonsumsi.

Meskipun tidak keruh, tapi rasanya asin dan pahit. Masalah lainnya, air itu dianggap menyebabkan perobotan mudah berkarat. "Wah pas saya pindah kesini, segala sendok-garpu berkarat. Panci berlubang akibat airnya asin (zat besi tinggi)," ujar Kuriah


Kuriah menyebut warga Pegadungan sangat berharap bisa menikmati air bersih dari PAM. Lokasi Pegadungan memang dekat dengan perumahan Citra Garden yang menggunakan air penyulingan dari Kali Maja.

Adapun, perusahaan air swasta tersebut adalah Sukses Global Abadi. Akan tetapi, Kuriah lebih memilih PAM karena lebih murah harganya.

Sama seperti warga Tegal Alur, warga Pegadungan juga hanya menggunakan air untuk kebutuhan MCK. Beberapa warga bahkan lebih memilih mencuci di Kali Maja daripada mencuci memakai air tanah yang bisa menimbulkan noda kekuningan.


Selain itu, air tanah ini juga menyebabkan rasa tidak nyaman di kulit. "Di kulit airnya lengket, kita aja keramasnya dan gosok gigi harus pake air isi ulang," terang Kuriah

Kuriah mengatakan dirinya lebih memilih menggunakan air galon isi ulang daripada air pikulan karena air pikulan berbau kaporit. Harga air isi ulang sebesar Rp5 ribu per-galon.

Kuriah dan beberapa warga menjelaskan bahwa saat Anies-Sandi berkampanye di Kalideres, mereka sudah mengadukan permasalahan air bersih ini. Warga Pegadungan juga mengklaim telah berulang kali mengirimkan surat agar pipa PAM bisa masuk ke daerah Pegadungan.

"Waktu Anies-Sandi kampanye kami juga sudah bilang kami kekurangan air besih, kami minta janjinya mereka," tegas Kuriah.

Anies Razia Gedung

Terkait air tanah, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebelumnya bakal merazia sebanyak sekitar 80 gedung di Jakarta terkait kepatuhan aturan pengelolaan air tanah.

Sebab, penyedotan air berlebih memicu penurunan permukaan tanah di Jakarta.

"Kami meminta seluruh pemilik dan pengelola gedung untuk taat dan kooperatif, karena timnya akan bekerja meminta informasi dan mengecek," tutur dia, di Balai Kota.


Pemeriksaan gedung itu sendiri merupakan tindak lanjut dari Keputusan Gubernur (Kepgub) Nomor 279 Tahun 2018. Kepgub tersebut memerintahkan pembentukan tim pengawasan terpadu penyediaan sumur resapan, instalasi pengolahan air limbah, serta pemanfaatan air tanah di bangunan gedung dan perumahan.

"Akan ada 80 gedung yang diperiksa sejak hari ini sampai tanggal 21 (Maret)," kata Anies.

Aksi Anies bisa jadi merupakan salah satu upaya untuk menyelamatkan lingkungan di Jakarta. Namun, Mardiyana hingga Kuriah bukan tak mungkin menunggu aksi 'penyelamatan' Anies lainnya di Kalideres. (asa)