Berebut Kursi Cawapres Jokowi, Poros Baru Tak Diharapkan Lagi

Patricia Diah Ayu Saraswati, CNN Indonesia | Sabtu, 17/03/2018 08:15 WIB
Berebut Kursi Cawapres Jokowi, Poros Baru Tak Diharapkan Lagi Hanya elektabilitas Jokowi dan Prabowo yang tertinggi jelas Pilpres 2019. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pendaftaran calon presiden dan wakil presiden tinggal menghitung bulan. Namun yang menarik, deklarasi dan nama-nama tokoh yang muncul mengincar posisi calon wakil presiden (cawapres) lebih ramai ketimbang merebut posisi calon presiden (capres).

Setidaknya, baru nama Joko Widodo saja yang sudah secara resmi mendeklarasikan diri sebagai capres. Sedangkan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang digadang-gadang akan kembali menjadi kompetitor Jokowi masih belum mendeklarasikan diri sampai saat ini.


Sementara di bursa cawapres, sejumlah nama telah banyak muncul, baik yang menyatakan siap untuk mendampingi Jokowi maupun Prabowo. Mulai dari Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Romahurmuziy, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Mahfud MD, Sri Mulyani, Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi hingga Anies Baswedan.


Pengamat politik dari Universitas Padjadjaran Firman Manan mengatakan fenomena lebih ramainya bursa cawapres ketimbang capres terjadi, salah satu alasannya karena hasil survei dari sejumlah lembaga yang hanya memunculkan nama Jokowi dan Prabowo sebagai kandidat dengan tingkat elektabilitas tinggi.

Sementara untuk kandidat lain, elektabilitasnya masih jauh dibawah keduanya.

"Itu yang membuat figur lain lebih fokus untuk mengisi posisi cawapres," kata Firman kepada CNNIndonesia.com, Kamis (15/3).


Selain itu, menurut Firman aturan ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold (PT) yang mencapai 20 persen kursi DPR atau 25 persen perolehan suara sah nasional juga menjadi alasan lainnya.

Pasalnya sampai saat ini setidaknya sejumlah partai telah memberikan dukungannya kepada Jokowi, yakni PDIP, Golkar, Hanura, PPP, Nasdem, PSI, dan Perindo.

Kemudian, Gerindra dan PKS juga sama-sama ingin mencalonkan Prabowo. Praktis, kata Firman, tinggal PAN, PKB, dan Demokrat yang belum menentukan pilihannya.

Gerindra akan dekralasikan Prabowo Kembali Jadi CapresFoto: CNN Indonesia/Hesti Rika
Gerindra akan dekralasikan Prabowo Kembali Jadi Capres

Firman berpendapat melihat realitas politik saat ini, poros ketiga akan sulit terbentuk dan tidak diharapkan lagi. Selain itu, lanjutnya, sudah banyak pihak yang menyimpulkan bahwa skenario pertarungannya hanya akan head to head antara Jokowi dan Prabowo.

"Itulah yang membuat ketika muncul nama-nama lain itu lebih memposisikan diri sebagai cawapres," ujar Firman.

Kemudian, dengan elektabilitas Jokowi yang masih lebih unggul dibanding Prabowo, juga membuat lebih banyak figur merapat untuk menjadi cawapres Jokowi.

Firman memprediksi hingga pendaftaran capres-cawapres yanga akan ditutup pada Agustus mendatang, tidak akan terjadi penurunan ataupun kenaikan elektabilitas yang signifikan. Kecuali, jika terjadi sebuah peristiwa besar.


Karenanya, para kandidat berspekulasi akan lebih baik jika langsung merapat saja ke Jokowi daripada harus mendeklarasikan diri sebagai capres dan menjadi kompetitor Jokowi.

"Supaya namanya masuk dalam list, kalau kemudian dia memposisikan diri sebagai kompetitor maka kemungkinannya justru kecil untuk diambil oleh Presiden Jokowi," tutur Firman.

Setidaknya ada 20 nama yang masuk di bursa cawapres JokowiFoto: CNN Indonesia/Christie Stefanie
Setidaknya ada 20 nama yang masuk di bursa cawapres Jokowi


Capres di Luar Kalangan Parpol

Selain Jokowi, sudah ada nama tokoh yang mendeklarasikan sebagai capres. Namun tokoh itu berasal dari luar kalangan partai politik. Dia adalah mantan Menteri Koordinator bidang Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli.

Selain Rizal Ramli, ada nama mantan panglima TNI Gatot Nurmantyo yang disebut akan segera mendeklarasikan diri usai menjadi purnawirawan pada 31 Maret mendatang.


Firman menyampaikan munculnya nama capres di luar kalangan parpol tersebut dikarenakan pertarungan di tataran partai politik saat ini hanya di tingkat cawapres. Apalagi, partai politik yang sudah memberikan dukungannya kepada Jokowi maupun Prabowo sebagai capres.

"Jadi sekarang itu perbincangannya atau pertarungannya di antara partai pendukung ya siapa yang menjadi cawapres," kata Firman.

Firman berpendapat mereka yang mendeklarasikan diri sebagai capres di luar partai politik tidak punya hitungan atau spekulasi yang tepat.


Sebab, untuk maju sebagai capres mau tidak mau harus lewat partai politik. Sementara partai politik juga sudah mendeklarasikan dukungannya, dan hanya tersisa PKB, PAN, dan Demokrat saja yang belum.

"Nothing to lose, mereka deklarasi silakan. Tapi masalahnya nanti apakah kemudian mereka bisa maju atau tidak, masih pertanyaan besar," tutur Firman. (DAL/DAL)