Pakar Air: Jakarta Darurat Sumur Resapan

Mesha Mediani, CNN Indonesia | Rabu, 21/03/2018 06:21 WIB
Jakarta darurat sumur resapan. Padahal sumur resapan sangat efektif mengurangi banjir. Namun, program yang sudah dicetus Jokowi di Jakarta belum diperhatikan. Keberadaan sumur resapan dinilai efektif mengurangi banjir. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anggota tim riset Masyarakat Air Indonesia Fatchy Muhamad menilai penyediaan sumur resapan di Jakarta masih sangat minim. Sumur resapan sendiri sangat efektif mengurangi banjir dan dapat mengisi air tanah di semua jenis lahan.

Fatchy menjelaskan akibat kurangnya resapan buatan di Jakarta, jumlah air hujan yang turun dan mengalir ke laut dan sungai akan bertambah banyak. Saat kapasitas sungai tidak menyanggupi otomatis air sungai meluap dan menyebabkan banjir.

"Solusinya buat resapan buatan. Konservasi total. Itu yang harus dilakukan bukan hanya pemerintah, tetapi seluruh masyarakat," katanya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (20/3).



Resapan buatan yang dimaksud Fatchy yakni berupa sumur dan biopori. Pakar air lulusan Intitut Teknologi Bandung (ITB) itu pun memperhitungkan secara kasar kebutuhan sumur resapan di Jakarta.

Menurutnya, jika terdapat 12 juta penduduk ibu kota kemudian dibagi dengan empat orang per keluarga, maka ada 3 juta penduduk yang memerlukan rumah tinggal di ibu kota.

Fatchy menuturkan masing-masing rumah itu pun sebaiknya memiliki minimal satu sumur resapan. Namun, bisa juga dua sumur yang dibangun di halaman depan dan halaman belakang.

"Diperlukan 3 juta atau 6 juta sumur resapan di halaman depan dan halaman belakang. Itu dihitung secara manual biasa, tetapi kalau mau dihitung secara ilmiah, harus dihitung berapa curah hujannya, kapasitas sungai, dan lain-lain," katanya.


Menurutnya, masalah di Jakarta saat ini bukanlah soal efektivitas sumur resapan dalam mengurangi banjir. Melainkan jumlah ketersediannya yang masih sedikit.

"Masalahnya adalah kurang banyak. Kalau (dibutuhkan) 3 juta sumur resapan, sekarang apakah baru seribu? Bayangkan, 10 ribu saja mereka belum sampai," kata Fatchy.

Dia pun meyakini Jakarta yang memiliki total luas 661 kilometer persegi bisa bebas banjir jika semua bangunan tertib menyediakan sumur resapan di halamannya. Dengan catatan, intensitas curah hujan 100 liter per meter persegi.


Lebih lanjut, Fatchy menambahkan biaya membangun sumur resapan masih cukup terjangkau, berkisar Rp3,5 juta sampai Rp5 juta.

"Masalahnya, enggak semua orang mengerti dan peduli," ujarnya.

Di sisi lain, Kepala Seksi Air Tanah Dinas Perindustrian dan Energi DKI Ali Ridho mengakui hingga saat ini Pemprov DKI baru membangun 6.500 sumur resapan di berbagai fasilitas sosial (fasos).


Padahal, sejak tahun 2013 Pemprov DKI di bawah kepemimpinan mantan Gubernur Joko Widodo berkomitmen untuk mengerjakan sumur resapan sebagai salah satu cara menanggulangi masalah kebutuhan air bersih.

"Ada di sekolahan, kantor kelurahan, kantor kecamatan, dan taman-taman milik Pemda. Jumlahnya 6.500," kata Ali, Selasa (20/3).

Tahun ini, Ali melanjutkan, pembangunan akan dilanjutkan di beberapa titik di Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, dan Jakarta Barat. (DAL)