Cawapres dan Batu Loncatan Cak Imin ke Kursi Presiden 2024

Bimo Wiwoho, CNN Indonesia | Selasa, 27/03/2018 05:41 WIB
Posisi cawapres disebut sebagai batu loncatan bagi Ketua Umum PKB Cak Imin untuk meraih elektabilitas tinggi sebagai modal pada Pemilu 2024. Presiden Joko Widodo (kiri) dan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (kanan), di Istana Merdeka, Jakarta, 2016. (Foto: CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai wajar kukuhnya Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin untuk menjadi calon Wakil Presiden bagi Joko Widodo pada Pemilu 2019.

Sebab, cawapres 2019 adalah batu loncatan untuk menjadi Presiden pada Pemilu 2024.

"Karena 2024, Wakil Jokowi bisa berpotensi akan menjadi Presiden selanjutnya," ucap dia, kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Senin (26/3).


Menjadi Wapres periode 2019-2024, lanjutnya, memberi sejumlah keuntungan. Pertama, mendapat panggung untuk memoles diri dan meningkatkan elektabilitas. Kedua, tertular elektabilitas Jokowi yang sudah tinggi.

Menurut Adi, Cak Imin sudah membaca hal itu sehingga bersikukuh untuk menjadi cawapres Jokowi. Terlebih, kemungkinan Jokowi untuk menang pun besar.

"Kalau dilihat analisisnya, ya tentu lebih menjanjikan menjadi cawapresnya Jokowi daripada cawapresnya Prabowo," ucap Adi.

Menurut Adi, menjadi Menteri dalam kabinet Jokowi justru akan menurunkan level Cak Imin sebagai politisi senior. Terlebih, Cak Imin sudah pernah menjadi menteri di kabinet sebelumnya.

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar 'menempel' Presiden Jokowi dalam peresmian pengoperasian kereta api Bandara Soekarno-Hatta, beberapa waktu lalu.Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (kanan) 'menempel' Presiden Jokowi (kiri) dalam peresmian pengoperasian kereta api Bandara Soekarno-Hatta, beberapa waktu lalu. (Foto: CNN Indonesia/Christie Stefanie)

Menjadi pimpinan DPR atau MPR pun, lanjutnya, tidak bisa meningkatkan elektabilitas Cak Imin. Alhasil, menjadi Wakil Presiden bagi Jokowi merupakan panggung terbaik bagi Cak Imin.

"Tidak akan melesat. Kalau jadi menteri, bukannya tidak pantas, tapi grade dia menurun. Yang paling menjanjikan ya menjadi wakil Presidennya Jokowi," jelasnya.

Adi menilai Ketum PKB tersebut tidak akan memiliki elektabilitas yang besar pada pilpres 2024 apabila dia gagal menjadi Wakil Presiden Jokowi pada periode 2019-2024.

Elektabilitas Cak Imin bakal berada di bawah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang sudah mulai diberi panggung oleh Partai Demokrat sebagai Ketua Komando Tugas Bersama (Kogasma) Pilkada 2018 dan Pemilu 2019. Jika ia diberi posisi Menteri oleh Jokowi, putera Susilo Bambang Yudhoyono tersebut akan makin tinggi popularitasnya.

Selain itu, elektabilitas Cak Imin bakal berada di bawah kepala-kepala daerah yang saat ini memimpin. Misalnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Selain itu, Adi juga memprediksi calon gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, bakal menjadi capres pada 2024.

"Ini menutup ruang bagi Cak Imin untuk maju di 2024. Ada tokoh-tokoh baru yang lebih fresh," katanya.

Di samping berupaya untuk dirinya, Adi menilai Cak Imin tengah berusaha meningkatkan reputasi PKB pada Pemilu 2014. Menjadi cawapres Jokowi pada Pemilu 2019 dinilai akan berdampak positif pada raihan suara partai.

Pasalnya, masyarakat akan berpikir sederhana dalam menghadapi Pemilu 2019. Masyarakat, kata Adi, bakal memilih anggota legislatif dari partai yang mengusung capres atau cawapres. Dengan demikian, apabila Cak Imin resmi menjadi cawapres, maka PKB akan turut mendulang banyak suara.

Pergerakan Pemuda dan Kemahasiswaan Bersatu berencana menggelar aksi unjuk rasa untuk menuntut penyelesaian kasus 'Kardus Durian' yang diduga melibatkan Cak Imin, di depan Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (26/3).Pergerakan Pemuda dan Kemahasiswaan Bersatu berencana menggelar aksi unjuk rasa untuk menuntut penyelesaian kasus 'Kardus Durian' yang diduga melibatkan Cak Imin, di depan Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (26/3). (Foto: CNN Indonesia/Dhio Faiz)

"Kurang lebih seperti itu. Seperti Prabowo juga. Kalau Prabowo tidak nyapres, Gerindra diprediksi jeblok. Tapi Prabowo sendiri elektabilitasnya masih stagnan untuk nyapres," tandas Adi.

Dalam beberapa kesempatan, Cak Imin secara gamblang mengutarakan niatnya untuk menjadi cawapre sbagi Jokowi. Jika dirinya tidak digandeng, Cak Imin yakin Jokowi akan kesulitan untuk meraih kemenangan pada Pilpres 2019.

"Insya Allah dan kunci kemenangan Pak Jokowi memang ada di kita, di PKB. Ya kita 2014, 11 juta pemilih, 2019 seluruh kekuatan Islam dan NU bersatu," tutur Cak Imin, usia berziarah ke makam Taufiq Kiemas di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Minggu (26/3).

Sementara, Pergerakan Pemuda dan Kemahasiswaan Bersatu (PPKB) menyebut bahwa Cak Imin memiliki persoalan hukum yang belum selesai. Yakni, kasus kardus durian saat menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, 2011.

KPK ketika itu melakukan tangkap tangan dua anak buah Cak Imin, Sekretaris Direktorat Jenderal Pembinaan Pengembangan Kawasan Transmigrasi I Nyoman Suisnaya dan bekas Kepala Bagian Perencanaan dan Evaluasi Program Kemenakertrans Dadong Irbarelawan.

KPK juga menangkap Kuasa Direksi PT Alam Jaya Papua Dharnawati yang baru saja mengantarkan Rp1,5 miliar ke kantor Kemenakertrans. Duit itu dibungkus menggunakan kardus durian.

Pada persidangan di 2012, Dharnawati mengaku uang itu sebenarnya ditujukan untuk Cak Imin. Namun Cak Imin berkali-kali membantah, baik di dalam atau luar persidangan.

(arh/arh)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK