Cerita Surya, Konvoi Cirebon-Jakarta Ikut Demo Ojek Online

RZR, CNN Indonesia | Rabu, 28/03/2018 08:03 WIB
Cerita Surya, Konvoi Cirebon-Jakarta Ikut Demo Ojek Online Surya rela naik motor dari Cirebon ke Jakarta untuk memperjuangkan nasibnya dan ribuan pengemudi ojek online lainnya. (CNN Indonesia / Ramadhan Rizki Saputra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ribuan pengemudi ojek online yang tergabung dalam Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) tetap menggelar demo di depan Istana Negara, Jakarta, kemarin. Mereka menuntut pemerintah melakukan rasionalisasi tarif ojek online.

Massa aksi yang hadir pun berasal dari berbagai daerah di luar Jabodetabek. Salah satunya adalah pengemudi yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat. Mereka mengaku melakukan konvoi bersama untuk datang melakukan aksi di Jakarta.

Salah seorang peserta Aksi, Muhammad Surya (23) mengaku jauh-jauh datang dari Cirebon, Jawa Barat menuju Jakarta untuk memperjuangkan nasibnya sebagai pengemudi ojek online dengan mengukuti aksi ini. 


Surya dan temannya Nova Farianto bersama belasan rekannya yang lain menunggangi 'kuda besi' yang biasa mereka gunakan untuk mencari nafkah, dari Cirebon ke Jakarta.

Tujuan mereka hanya satu, menyelesaikan persoalan tarif yang merugikan mereka.

Surya mengaku telah merencanakan ikut aksi ini sejak seminggu yang lalu. Ia awalnya mendapatkan informasi rencana demonstrasi besar-besaran ojek online ini dari grup whatsapp sesama pengemudi ojek online.

"Persiapan keberangkatan dari Cirebon, udah 1 minggu koordinasi dan persiapan," kata Surya saat ditemui CNNIndonesia.com kemarin di lokasi aksi.

Surya mengaku hanya bermodalkan nekat dari Cirebon menuju Jakarta. Ia hanya mengantongi uang saku sebesar Rp150.000 dari Cirebon untuk mengikuti demonstrasi hari ini.

"Ibaratnya bisa dibilang, Arek (Anak) Cirebon yang nekat, hanya modal full bensin datang ke Jakarta 200 km," kata dia.

Surya mengatakan, rombongan konvoi ojek online dari Cirebon itu seringkali mendapatkan bantuan berupa makanan maupun persediaan bensin dari sesama komunitas ojek online lainnya saat melintasi daerahnya.

"Misalnya komunitas di Indramayu, Cikampek, Karawang mereka memberikan bantuan. Ada juga pengemudi di daerah tersebut, berangkat juga ke Jakarta, bareng, jadi ramai," ujarnya.

Pengemudi ojek online lain, Nova mengatakan tak keberatan pergi ke Jakarta ikut demonstrasi meski harus meninggalkan anak istrinya di rumah. 

Ia menyebut demo ini tak hanya untuk kepentingan keluarganya saja.

"Kalau memang pemerintah dan perusahaan bisa mendengar dan tujuan kami tercapai, kan bukan keluarga saya aja yang bahagia. Tapi keluarga pengendara ojek online lainnya juga bahagia," kata Nova.

Pendapatan Menyusut

Surya mengaku telah menekuni profesi sebagai pengemudi ojek online sejak setahun belakangan. Ia adalah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). 

Setelah lulus SMK pada 2014, ia sempat bekerja sebagai buruh operator mesin di salah satu pabrik yang bergerak di bidang makanan di wilayah Cikarang, Jawa Barat selama setahun.

"Di sana saya enggak bertahan lama karena jadi buruh kontrak enggak diangkat-angkat (jadi pegawai tetap), dan di sana juga saya enggak bebas," kata Surya.

Selepas berhenti dari profesinya sebagai buruh, Surya lantas kembali ke kota kelahirannya dan mengadu nasib menjadi pengemudi salah satu perusahaan ojek online.

Selama enam bulan pertama dirinya sebagai pengemudi Ojol berjalan lancar dan baik. Harapannya untuk menjadi orang yang 'bebas' ketimbang saat menjadi buruh di pabrik tercapai.

"Ya kalau jadi buruh kan tenaga diperas. Datang jam 7 pagi pulang jam 5 sore, kalau Ojol kan bebas nariknya," kata dia.

Tak hanya itu, dari sisi pendapatan pun dinilai layak untuk mencukupi kehidupannya sendiri. 

Awal-awal meniadi pengemudi ojek online, Surya mengaku dalam sehari bisa meraup pendapatan bersih sebesar Rp150.000. 

Jika dikalkulasi dalam 24 hari kerja, gaji yang diterimanya sebagai pengemudi ojek online cukup tinggi ketimbang saat menjadi buruh pabrik yang hanya mengantongi upah sebesar Rp3,1 juta.

Masalah lantas muncul sejak 6 bulan terakhir. Pendapatannya menurun sangat drastis. Ia mengaku seringkali hanya mendapat penghasilan bersih sebesar Rp50.000 tiap harinya.

Surya menduga penurunan pendapatannya disebabkan oleh masalah tarif per kilometer yang diubah oleh pengembang aplikasi, serta pemotongan pajak pengemudi oleh pihak aplikasi sebesar 60 persen. 
Modal Nekat Ojol Cirebon Konvoi ke Jakarta untuk Demo IstanaSurya dan Nova, dua pengemuji ojek online asal Cirebon yang ikut demo ke Jakarta. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
"Pemotongan itu sama sekali tak ada sosialisasi atau pemberitahuan dari pihak aplikasinya," kata dia.

Surya sendiri sempat mendatangi untuk mempertanyakan kebijakan tersebut ke salah satu perwakilan penyedia aplikasi ojek online di daerahnya. Akan tetapi, pertemuan justru tak membuahkan hasil dan menemui titik temu.

"Dari mereka katanya suruh tanya ke kantor pusatnya di Jakarta, kan jauh banget," kata dia.

Nova juga punya masalah serupa dengan Surya. Pria dua orang anak yang sudah dua tahun belakangan menggeluti profesi sebagai pengemudi ojek online itu mengaku pendapatannya tak menentu karena sering kali perusahaan penyedia jasa ojek online mengubah peraturan tarif tanpa sosialisasi.

Nova mengaku saat ini pendapatan bersih tiap harinya hanya berkisar Rp60.000-70.000. Hal itu berbanding jauh saat awal ia menjadi pengemudi ojek online yang bisa mendapatkan pendapatan bersih hingga Rp200.000-250.000.

"Kalau mereka ubah tarif itu enggak pernah ada sosialisasi, jadi seenaknya saja ubah-ubah tarif," kata dia.

Ia mengatakan saat ini rata-rata aplikator ojek online memiliki tarif sebesar Rp1.600 per kilometer. Menurutnya tarif tersebut sangat tak rasional dan sangat kecil bagi pendapatan pengemudi.

"Makanya kami tuntut supaya pemerintah punya regulasi yang mengatur soal tarif ini, agar enggak seenaknya penyedia aplikasi ubah-ubah terus" kata dia. (sur)