Warung GG, Penjual Miras Maut Oplosan yang Renggut 8 Nyawa

Gloria Safira Taylor, CNN Indonesia | Rabu, 04/04/2018 16:36 WIB
Warung GG, Penjual Miras Maut Oplosan yang Renggut 8 Nyawa Warung GG yang menjual miras oplosan ginseng merenggut nyawa delapan orang diberi garis polisi. Foto: CNN Indonesia/Gloria Safira Taylor
Jakarta, CNN Indonesia -- Matahari bersinar cukup terik di Jalan Komjen Pol M Jasin, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, Rabu (4/4) pagi. Dari sederet bangunan yang berjejer di kawasan tesebut, ada satu lapak yang menarik perhatian.

Pita kuning garis polisi membentang di sebuah pintu besi geser berkelir hijau yang tertutup rapat. Tempat itu dikenal dengan sebutan Warung GG alias Warung Ginseng.

Dari pantauan CNNIndonesia.com, Warung GG berada di pojok kiri bersebelahan dengan sebuah bengkel tambal ban. Aroma oli selintas tercium. Di depan warung itu berserakan sejumlah puntung rokok, satu botol minuman keras dan sampah-sampah kantong plastik serta bekas kemasan madu.
Sampah di depan Warung GG yang menjual miras oplosan menewaskan delapan orangSampah di depan Warung GG yang menjual miras oplosan menewaskan delapan orang. (CNN Indonesia/Gloria Safira Taylor)

Warung GG terletak tepat di perbatasan antara Depok dan Jakarta Selatan. Di sana Warung GG tidak sendirian menjajakan minuman keras. Berdasarkan informasi masyarakat setempat, sebuah warung kecil berada tepat di samping kanannya pun menjual minuman keras jenis ciu. Namun kedua warung itu kini tertutup rapat selepas digeledah anggota Polres Metro Jakarta Selatan.



CNNIndonesia.com sempat menemui seorang pemuda berambut gondrong bernama Indra (35) di lokasi. Dia mengaku terkejut dengan pemberitaan ada delapan orang tewas usai menenggak minuman keras jenis ginseng yang diracik di warung itu.

Indra mengaku sejak lama telah mengetahui soal ginseng yang dijual di warung itu. Menurut dia, peristiwa miras yang menyebabkan delapan orang meregang nyawa itu baru pertama kali terjadi, kendati warung itu sudah beroperasi lebih dari lima tahun.

"Pas beli yang malam Minggu kemarin saja ada masalah, biasanya sih enggak ada," kata Indra.

Indra mengaku tidak tahu nama asli lelaki sang peracik miras itu. Dia hanya mengenal pria berusia sekitar 50 tahun dengan panggilan Uda. Menurut Indra, Uda memiliki karyawan yang biasa berjaga di warung itu.

Sebelum peristiwa itu, Indra mengatakan Uda juga pernah ditangkap polisi belum lama ini selepas razia minuman keras. Namun tak sampai 24 jam, Uda sudah bebas dan kembali membuka warungnya.

"Pernah ditangkap juga dia di tahun ini, tapi besok paginya sudah keluar lagi. Kan aneh juga ya," ujar Indra.

Indra yang mengenakan kaus putih dan celana pendek itu juga menjadi pelanggan miras buatan Uda. Menurut dia minuman racikan Uda berbeda dari yang lain. Dia mengaku dua kali dalam sebulan menenggak minuman itu.

Minuman ginseng dengan warna layaknya teh khas Uda diakuinya banyak dicari baik oleh remaja, anak muda maupun orang tua. Ketenaran ginseng ala Uda menyebar dari mulut ke mulut.

Tampak muka Warung GG yang diberi garis polisi.Tampak muka Warung GG yang diberi garis polisi. (CNN Indonesia/Gloria Safira Taylor)


"Banyak yang beli dari mana-mana ada cewek, bocah, anak punk yang biasa nongkrong di sini sampai bencong juga dan malam minggu pasti ramai, biasanya mereka tahu dari mulut ke mulut. Harga sih standar memang segitu, tapi rasanya itu beda enggak sama dengan yang lain artinya enak di mulut. Dia punya rumus sendiri bagaimana cara campurannya," kata Indra.

Indra mengatakan Uda mematok harga berbeda buat gingsengnya itu. Buat takaran dua gelas bisa ditebus dengan merogoh kocek Rp10 ribu. Lalu Rp15 ribu untuk porsi tiga gelas dan Rp20 ribu buat dinikmati dalam empat gelas.

Saban hari, Indra mengatakan kerap melihat Uda membawa empat galon air dipakai sebagai bahan pembuat ginseng di warungnya.

"Untungnya bisa empat galon isi ulang, stok sekitar empat galon isi ulang. Biasanya kalau Rp10 ribu itu bisa jadi dua gelas, satu gelas artinya Rp5 ribu. Kalau satu galon isi 19 liter berapa keuntungannya sehari? Coba bayangin saja," kata Indra.

Soal jam operasi warung, menurut Indra tak ada kata tutup untuk Uda. Indra mengatakan Uda selalu menjajakan miras racikannya bahkan ketika bulan Ramadhan. Namun saat puasa warung itu buka usai maghrib.

Menurut Indra ginseng itu rasanya getir ketika sudah menempel di lidah. Namun tidak terasa panas di bagian dada. Hanya saja Indra pernah merasa sesak beberapa hari setelahnya.

"Rasanya getir waktu pertama masuk di mulut tapi enggak panas, paling minum dua tiga gelas sudah keleyengan kepala," ujar Indra sambil tertawa.

Berbeda dengan Indra, salah satu pemuda bernama Amar (21) juga biasa membeli ginseng di tempat Uda sejak 2016. Namun Amar mengaku tidak pernah merasa sesak atau sakit perut usai menenggak minuman itu.

Dua pekan sebelum peristiwa itu, Amar mengaku sempat mencicipi lagi ginseng milik Uda. Namun dia tetap tidak merasakan efek negatif.

Menurut Amar, ginseng milik Uda hanyalah campuran dari minuman soda seperti Coca Cola, air putih, dan alkohol berkadar 70 sampai 96 persen. Dia tahu bahan baku itu karena sering melihat Uda membawa barang-barang itu masuk ke warungnya.

"Tidak pernah sesak, biasa saja. Rasanya itu enak, pas. Dua minggu sebelum peristiwa ini juga nyoba-nyoba lagi dan rasanya masih sama," ujarnya. (ayp)