Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengungkapkan bahwa akan ada deklarasi calon presiden yang dinilai mewakili aspirasi para buruh pada perayaan 'May Day' atau Hari Buruh Internasional pada 1 Mei.
Menurutnya, calon terkuat capres pihaknya hingga saat ini adalah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Prabowo dan Rizal Ramli. Itu maunya buruh. Tapi kan buruh bukan partai politik, nanti partai politik yang menentukan," kata dia, kawasan Menteng, Jakarta, (24/4).
"Anggota KSPI 2,2 juta. Dikalikan istri dan anak satu, maka kami punya suara hampir 5 juta," kata Said.
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) dan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal (kanan), di Kantor DPP Partai Gerindra, Jakarta, 2017. |
Sebab, mereka juga mempunyai aspirasi yang perlu diperjuangkan. Dukungan terhadap salah satu calon adalah salah satu cara menyuarakannya.
"Boleh-boleh saja enggak ada masalah karena semua calon masih berpeluang. apalagi kalau sudah punya massa rial, tinggal melakukan pendekatan terhadap parpol," kata dia, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (24/4).
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah angkatan kerja Indonesia pada Februari 2017 sebanyak 131,55 juta, sedangkan penduduk pekerjanya mencapai 124,54 juta. Jumlah ini naik sebanyak 6,13 juta orang dibanding pada semester sebelumnya, dan bertambah 3,89 juta dibandingkan pada Februari 2016.
Hal itu terjadi pada Pemilu Presiden 2014. Saat itu, KSPI dan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) menyatakan dukungannya terhadap pasangan Presiden-Wakil Presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Namun akhirnya, pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang memenangkan pemilihan.
"Pengaruh buruh memang cukup besar dan buruh itu sudah pernah dicoba di kancah perpolitikan Indonesia, namun belum berhasil," kata Hendri.
Senada, Direktur Populi Center Usep S Ahyar mengatakan suara buruh bisa menambah perolehan suara meskipun tidak cukup siginifkan. Pasalnya, suara buruh tidak bulat karena ada perbedaan pandangan politik di masing-masing organisasi.
Tuntutan buruh dalam unjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta, 2017. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Misalnya, pada Pemilu Presiden 2014 tetap ada dua serikat buruh, yakni Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) dan Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), yang mendukung Jokowi-JK.
"Tentunya suara buruh akan menambah kekuatan di partai. Tapi di buruh juga mempunyai kepentingan yang berbeda beda dan suaranya juga terpecah," kata Usep.
Lebih jauh, Usep mengatakan suara buruh akan berpengaruh signifikan jika kondisi organisasi seperti era orde baru diterapkan. Saat itu hanya satu organisasi golongan profesi tertentu yang diakui pemerintah.
Misalnya, PGRI yang menaungi para guru atau Kerukunan Tani Indonesia (KTI) yang menaungi para petani. Sehingga, suara di dalam organisasi itu tidak terpecah.
"Buruh itu macam-macam juga. Saya kira itu mengapa tidak kuat mendukung, karena di organisasinya tidak begitu solid. Kalau jadi satu kekuatan itu saya kira dahsyat juga," tandas Usep. (arh/ugo)
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) dan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal (kanan), di Kantor DPP Partai Gerindra, Jakarta, 2017.
Tuntutan buruh dalam unjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta, 2017. (