Sidang Fredrich Yunadi Memanas, Hakim Teriak dan Ketuk Palu

FHR, CNN Indonesia | Kamis, 26/04/2018 17:55 WIB
Sidang Fredrich Yunadi Memanas, Hakim Teriak dan Ketuk Palu Hakim terpaksa bersuara lantang dan meninggikan suaranya untuk melerai perdebatan Fredrich Yunadi dengan saksi. Palu hakim diketuk berkali-kali. (CNN Indonesia/LB Ciputri Hutabarat)
Jakarta, CNN Indonesia -- Suasana sidang Fredrich Yunadi, terdakwa kasus dugaan merintangi penyidikan terhadap Setya Novanto, kerap tegang. Hari ini pun hakim harus meninggikan suara hingga menggunakan palunya buat menghentikan perdebatan sang advokat.

Perdebatan terjadi dalam sesi tanya jawab antara Fredrich dengan saksi dokter spesialis jantung Rumah Sakit (RS) Medika Permata Hijau, dr. Mohammad Toyibi, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (26/4).

Fredrich mencecar Toyibi terkait rekam medis Setya Novanto yang diberikan kepada KPK. Menurut Fredrich, rekam medis itu adalah rahasia dan tidak boleh diberikan atau dilihat oleh siapapun, termasuk aparat penegak hukum. Menurut Fredrich, sikap Toyibi telah melanggar kode etik kedokteran.



"Saudara saksi tahu tidak medical record tidak boleh dibocorkan, penegak hukum pun harus mendapat izin dari pengadilan lebih dulu," ucap Fredrich dengan nada tinggi.

Ucapan Fredrich itu direspons oleh Jaksa penutut pada KPK Takdir Suhan. Takdir menyela Fredrich karena sikapnya dianggap menekan Toyibi.

"Izin majelis, saksi tidak boleh diintimidasi seperti ini," kata Takdir.

"Saya tidak mengintimidasi, justru saya memberi tahu saksi," Sahut Fredrich dengan nada yang masih meninggi.


Ketua majelis hakim Syaifudin Zuhri akhirnya terpaksa meninggikan suaranya, dipadukan dengan ketukan palu. Hal itu buat memperingatkan supaya adu mulut Fredrich yang kesekian kalinya segera diakhiri.

Ia meminta Fredrich berhenti berbicara. Namun, Fredrich tetap tak menghiraukan imbauan hakim.

"Sudah cukup! Cukup! Saya bilang cukup!," ujar Syaifudin setengah berteriak seraya mengetuk palu beberapa kali.


Dalam kasus ini, Fredrich yang merupakan pengacara Setya Novanto dijerat Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP karena dinilai merintangi penyidikan kasus dugaan korupsi proyek pengadaan e-KTP. Pun serupa dengan dokter Bimanesh.

Fredrich dan Bimanesh disebut merekayasa supaya Setnov dirawat inap di Rumah Sakit Medika Permata Hijau pada pertengahan November 2017. Hal itu dilakukan buat menghindari pemeriksaan penyidik KPK. (ayp)