Pengamat: Bom Surabaya Bentuk Jihad Tanpa Pemimpin

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Minggu, 13/05/2018 14:47 WIB
Pengamat: Bom Surabaya Bentuk Jihad Tanpa Pemimpin Ledakan bom terjadi di tiga gereja di Surabaya pada Minggu (13/5). (ANTARA FOTO/Moch Asim)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian Noor Huda Ismail mengatakan pihak berwenang tidak akan bisa mencegah serangan bom seperti yang terjadi di sejumlah gereja di Surabaya karena ada perubahan pola perencanaan serangan dan pola penyebaran ideologi radikal.

Noor Huda mengatakan serangan-serangan yang terjadi ini dilakukan karena kesamaan ide tanpa ada perintah dari pimpinan.

"Ini leaderless jihad hanya karena kesamaan ide," kata Noor Huda kepada CNN Indonesia.com, Minggu (13/5).


Dia menjelaskan meski tidak ada pemimpin atau perintah, perencanaan aksi itu dilakukan oleh kelompok-kelompok melalui aplikasi pesan instan seperti Telegram dan Whatsapp.

"Dengan medsos terutama telegram mereka berkoordinasi," ujar Noor Huda.

Aplikasi ini, terutama Telegram dan Whatsapp, hingga kini belum bisa disadap karena sistem enkripsi yang canggih.

Satu-satunya cara untuk bisa mengetahui percakapan dalam group-group ini adalah menjadi anggotanya.

Alasan keamanan seperti ini yang menyebabkan China melarang Whatsapp dan Telegram.

Kesulitan menembus aplikasi pesan instan ini menjadi penyebab masih terjadi sejumlah serangan bom di Indonesia, meski polisi berulang kali berhasil menangkap sejumlah warga yang diduga akan melakukan serangan mematikan.

Sejumlah gereja di Surabaya dibom pada Minggu (13/5) yang menewaskan delapan orang dan melukai puluhan lainnya.

Hingga kini polisi menyebut serangan itu terjadi di tiga gereja. Pertama terjadi di Gereja Santa Maria Tak Bercelah Ngagel pukul 07.30 WIB, disusul dengan ledakan di GKI Jalan Diponegoro pukul 07.35 WIB, dan Gereja Pantekosta Jalan Arjuna pukul 08.00 WIB.

Polisi menyebut aksi itu merupakan aksi serangan bom bunuh diri.
Ledakan terjadi di tiga gereja di Surabaya pada Minggu (14/5) menewaskan setidaknya 10 orang. Ledakan terjadi di tiga gereja di Surabaya pada Minggu (14/5) menewaskan setidaknya 10 orang.  (Eris Riswandi/via REUTERS)
Beberapa jam sebelumnya, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror menembak mati empat orang terduga teroris di Terminal Pasirhayam, Desa Sirnagalih Kecamatan Cilaku, Cianjur, Jawa Barat, Minggu dini hari. 

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto menyebut mereka sel-sel 'tidur' teroris dari kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang bangkit menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Setyo menyatakan anggota Densus 88 Antiteror saat ini terus mengejar anggota kelompok JAD yang dikhawatirkan akan menggelar serangan lain. Sebab, kata Setyo, kelompok itu tetap menjadikan polisi sebagai target utama serangan.

Noor Huda menyebut bahwa sebagian besar para penganut paham radikal ini direkrut melalui media sosial yang menyasar pada warga yang memiliki jalan pikiran yang relatif sempit.

"Tahapan mereka menjadi radikal itu instan, mereka terpengaruh oleh propaganda yang dibuat ISIS dan disebarkan oleh pendukungnya. Propaganda itu selalu berisi tentang aksi anggota ISIS di seluruh dunia yang dianggap heroik," katanya.

Para pelaku, kata Noor Huda, kemudian ingin bisa meniru aksi-aksi yang dianggap heroik itu dan kemudian melakukan aksi seperti di Surabaya tersebut.

Noor Huda mengatakan bahwa upaya untuk menghilangkan pemikiran radikal ada di tangan masyarakat luas karena deradikalisasi berhasil pada beberapa individu tetapi belum secara luas di kalangan warga.

"Masih banyak yang menolak ada masalah ini, mereka masih berpikir ini proyek, rekayasa, permainan dan konspirasi," katanya.

Jadi, tambahnya, selama jalan pikir ini masih meluas akan sangat sulit untuk melakukan deradikalisasi yang pada akhirnya sulit untuk benar-benar menghilangkan ancaman serangan bom seperti yang terjadi di sejumlah gereja di Surabaya.

Negara, menurut Noor Huda, tidak akan bisa mengatasi masalah terorisme tanpa dibantu masyarakat terutama dari pimpinan agama, pendidik dan orang tua.
(yns)