SBY Soal Bom Surabaya: Jangan Saling Menyalahkan

Arif Hulwan Muzayyin, CNN Indonesia | Senin, 14/05/2018 02:53 WIB
SBY Soal Bom Surabaya: Jangan Saling Menyalahkan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY, di kantor Sekretariat DPC Partai Demokrat, Cibinong, Kabupaten Bogor, Januari 2018. (ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Alih-alih saling menyalahkan, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY mengajak semua pihak untuk memberikan kesempatan kepada aparat penegak hukum untuk menemukan dalang aksi-aksi teror belakangan ini.

"Saat ini, saudara-saudara, jangan salah-menyalahkan, dan saya kira tidak perlu ada komentar-komentar yang tidak semestinya. Mari kita beri kesempatan kepada para aparat keamanan dan penegak hukum untuk mencari dan menemukan siapa perancang, dalang dan penggerak dari serangan para teroris ini," ujar SBY dalam video yang diunggah di laman Partai Demokrat, Minggu (13/5) malam.



Menurutnya, sepekan terakhir adalah periode yang berat bagi bangsa Indonesia karena terjadi insiden kekerasan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, dan serangan teroris di Surabaya.

Pemerintah dan aparat keamanan, lanjut SBY, mesti menjamin perlindungan terhadap warga negara Indonesia dan masyarakat semua agar bisa tinggal dan menjalankan ibadah dengan aman.

"Negara dalam menghadapi terorisme harus selalu waspada tidak boleh lengah. Peran aparat intelejen, kepolisian, komando teritori TNI amat penting," ujar dia, yang juga Presiden RI ke-6 itu.

SBY pun mengutuk aksi-aksi para teroris yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban itu.

"Aksi terorisme, apapun dalih dan atas nama apapun, tidak pernah dibenarkan. Oleh karena itu bangsa Indonesia harus bersatu melawan dan mengalahkan aksi terorisme tersebut," ucapnya.

"SBY bersama Partai Demokrat mengajak seluruh komponen bangsa untuk mendukung dan membantu negara serta pemerintah untuk menegakkan hukum dengan seadil-adilnya dengan cara membawa pelaku kejahatan tersebut ke meja hijau dan mendapatkan sanksi hukum setimpal," tandasnya.

Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh di Istana Merdeka, Jakarta, 2016.Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh di Istana Merdeka, Jakarta, 2016. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Sebelumnya, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menyoroti kemampuan aparat kepolisian dan intelijen terkait dua insiden terorisme itu.

"Jelas ini bukan hanya kecolongan, kelalaian besar sudah ini," ucapnya, dikutip dari laman Metro TV.

Ia bahkan meminta Presiden Jokowi untuk mengkaji ulang pejabat di dua institusi tersebut akibat insiden-insiden itu.

"Presiden harus segera bertindak tegas kali ini, repositioning siapa saja yang perlu. Buktikan negara hadir dan punya kemampuan untuk mengatasi itu, menghadapi bahaya terorisme," cetusnya.

Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PDIP Arteria Dahlan menyebut pernyataan Surya itu sebagai "politik murahan". Baginya, yang diperlukan oleh masyarakat saat ini adalah optimisme dan semangat untuk mempersatukan.

"Terorisme ini tidak bisa diselesaikan dengan cara-cara menarik simpati seperti itu dan minta mereposisi seseorang, itu namanya politik murahan," cetus dia.

Menurut Arteria, Surya harusnya paham dengan kondisi wilayah Indonesia yang sangat luas. Para teroris pun menargetkannya sebagai sasaran serangan. Terlebih, aparat sudah bekerja keras untuk menangani kasus-kasus itu.

"Jangan mengumbar pernyataan-pernyataan meresahkan yang semakin meresahkan publik nantinya. Sekalipun hendak disampaikan Pak Surya, kan bisa on line langsung ke Pak Jokowi, ndak perlu diumbar ke publik. Apalagi menyangkut institusi lembaga negara, kasihan mereka, mereka sudah bekerja dengan sangat baik, kejadian ini pun sangat tidak mereka inginkan," tutup dia.




(arh/arh)