Teror Bom di Surabaya Disebut Tiru ISIS Dengan Target Lawas

Aryo Putranto, CNN Indonesia | Senin, 14/05/2018 11:56 WIB
Teror Bom di Surabaya Disebut Tiru ISIS Dengan Target Lawas Menurut mantan napi terorisme Ali Fauzi Manzi, serangan bom dengan target gereja mirip dengan pola serangan generasi teroris era 1990-an hingga awal 2000. (REUTERS/Beawiharta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rangkaian serangan bom di Surabaya dan ledakan di Sidoarjo, Jawa Timur, disebut-sebut sangat kental meniru taktik kelompok Negara Islam Iran dan Syam (ISIS).

Namun, menurut mantan narapidana terorisme, Ali Fauzi Manzi, yang membuatnya  terkejut adalah mereka kembali mensasar simbol agama dan rumah ibadah, seperti gereja, yang mirip dengan aksi kelompok teror pada era 1990-an dan awal 2000-an.

"Dengan mengorbankan seluruh anggota keluarga, aksi seperti ini mengadopsi aksi grup mereka di Irak, Suriah, Afghanistan. Ini serangan copy paste milik ISIS," kata Ali saat diwawancara CNNIndonesia TV, Senin (14/5).


Menurut Ali, pola serangan teror sejak 2011 hingga 2017 selalu menargetkan polisi, TNI, atau aparat negara lain. Mereka pun jarang menyerang simbol agama dan rumah ibadah, yang pernah dilakukan oleh generasi teroris sebelumnya.
"Penyerangan gereja ini menunjukkan pola berbeda. Ada pertimbangan kelompok baru kenapa harus menjadikan gereja sebagai sasaran," kata Ali.

Ali menyatakan, setelah kematian dedengkot teroris seperti dr. Azahari dan Noordin Mohammad Top pada 2010, muncul generasi teroris baru. Mereka membentuk beragam kelompok seperti Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Jamaah Ansharut Daulah, dan Jamaah Ansharut Tauhid.

Ali menyatakan, generasi teroris baru ini lantas banyak yang pergi berperang di Suriah, dan bergabung dengan ISIS. Segelintir dari mereka kembali ke tanah air dan melanjutkan gerakan teror.

"Hubungan terorisme Indonesia dan global cukup kuat. Mentor-mentornya masih ada di sana, masih bisa kirim e-mail dan pesan buat melakukan serangan brutal," ujar Ali.
Serangan bom di Mapolrestabes Surabaya hari ini menyebabkan empat polisi luka-luka. Bahkan kabarnya ada enam warga sipil yang sedang ada keperluan di Mapolrestabes Surabaya ikut menjadi korban.

"Empat anggota yang terluka yaitu Bripda M. Taufan, Bripka Rendra, Aipda Umar, dan Briptu Dimas Indra," kata Kepala Bidang Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera, dalam jumpa pers di Surabaya.

Menurut Frans, saat ini seluruh korban dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya.

Serangan bom itu terjadi di depan gapura Mapolrestabes Surabaya. Peristiwa itu mengakibatkan beberapa polisi sedang berjaga dan warga terluka.
Dari pantauan CNN Indonesia TV di lokasi kejadian, polisi saat ini menutup Jalan Sikatan sepanjang 500 meter di depan Mapolrestabes Surabaya. Seluruh awak media dan warga diminta menjauh dari lokasi kejadian. Sejumlah ambulans dari Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Surabaya, juga terlihat hilir mudik. Nampak juga mobil-mobil petinggi Polda Jatim berdatangan.

Polisi dan tim Gegana juga meminta pengguna jalan memutar arah dan menghindari Jalan Sikatan. Sebab, jalan itu sehari-hari ramai karena berada di pusat kota dan dekat dengan pusat niaga.

Kepala Bidang Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera menyatakan anggota polisi menjadi korban dalam kejadian itu. Menurut Frans, insiden itu terjadi pada pukul 08.50 WIB.
Frans menyatakan pelaku menggunakan dua sepeda motor terpisah. Mereka meledakkan bom ketika dihentikan oleh polisi di pos pemeriksaan. Frans mengatakan mereka masih mengusut kejadian itu.

Kemarin, serangan bom bunuh diri terjadi di tiga gereja di Kota Surabaya, Jawa Timur. Sampai saat ini tercatat 13 orang tewas dan 41 orang luka-luka dalam kejadian itu.

Sedangkan di Rumah Susun Wonocolo, Kabupaten Sidoarjo, juga terjadi ledakan bom di salah satu rumah. Korban yang tewas dalam kejadian itu tiga orang, dan dua anak-anak terluka. Diduga kuat ledakan itu tidak sengaja terjadi saat pelaku sedang merakit bom.

Presiden Joko Widodo menyatakan mengecam tindakan itu dan meminta Polri memberantas kelompok teroris sampai tuntas dan mempersilakan jika harus mengambil tindakan tegas.
"Ini adalah tindakan pengecut, tindakan tidak bermartabat, biadab," kata Presiden Jokowi dalam jumpa pers hari ini.

Presiden Jokowi menyatakan berjanji akan melawan terorisme hingga tuntas. Dia juga meminta polisi tidak perlu ragu mengambil tindakan tegas di lapangan, ketika berhadapan dengan kelompok teroris.

"Saya sampaikan kepada polisi, saya perintahkan Kapolri tindak tegas, tidak ada kompromi dalam melakukan tindakan di lapangan," ujar Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi juga mendesak Dewan Perwakilan Rakyat dan kementerian segera menyelesaikan revisi undang-undang terorisme. Sebab menurut dia, pengajuan revisi itu sudah dilakukan sejak Februari 2016, dan sampai saat ini belum juga diputuskan. (ayp/stu)