Sandiaga Sebut Sampah Jakarta Bisa Tutupi Candi Borobudur

Priska Sari Pratiwi, CNN Indonesia | Minggu, 20/05/2018 15:30 WIB
Sandiaga Sebut Sampah Jakarta Bisa Tutupi Candi Borobudur Volume sampah di DKI Jakarta mencapai 7.100 ton per hari. Jumlah ini disebut Wagub DKI Sandiaga Uno bisa untuk menutupi Candi Borobudur. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyebut volume sampah di DKI Jakarta saat ini mencapai 7.100 ton per hari atau setara dengan 50 kilometer persegi. Jumlah sebanyak ini menurut Sandiaga cukup untuk menimbun Candi Borobudur.

Jumlah sampah itu menurut Sandi akan bertambah saat Ramadan ini.

"Jadi tumpukan sampah ini dapat menutupi Candi Borobudur, dan ternyata saat masuk bulan ramadan produksi sampah meningkat sebanyak 10 persen," ujar Sandi saat memberikan sambutan dalam pencanangan Intermediate Treatment Facility di Sunter di Jakarta Utara, Minggu (20/5).


Karena itu Sandi menyatakan pentingnya pembangunan fasilitas pengolahan sampah dalam kota di Sunter, Jakarta Utara. 

Selama ini sampah di Jakarta masih dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang di Bekasi, Jawa Barat. Namun hanya tujuh persen dari total 7.100 ton sampah tersebut yang dapat diolah. Ia pun khawatir nantinya Bantar Gebang tak mampu lagi menampung sampah dari Jakarta.


"Harus dipastikan dengan ITF Sunter ini bisa kurangi bom waktu sampah yang kita hadapi. Apabila kita ke Bantar Gebang ini sangat menakutkan dan harus diketahui bahwa tempat itu tidak berkelanjutan," katanya.

Proyek pembangunan ITF Sunter ini, kata Sandi, akan digarap Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pemprov DKI yakni PT Jakarta Propertindo dengan perusahaan listrik asal Finlandia Fortum Power and Heat Oy.
Sandi Sebut Sampah Jakarta Bisa Tutupi Candi BorobudurTempat pengolahan sampah terpadu Bantargebang selama ini masih jadi andalan DKI Jakarta untuk membuang sampah. (CNN Indonesia/Eky Wahyudi)

Ia mengklaim pengembangan ITF Sunter berdasarkan standar dari negara di Eropa. Nantinya fasilitas pengolahan sampah ini akan mampu mengolah 2.200 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik sebesar 35 megawatt.

"Jadi ini yang saya sebut sebagai teknologi pengolahan sampah menjadi energi pertama dan terbesar dengan standar yang sangat tinggi," ucap Sandi.


Pembangunan ITF Sunter ini, lanjut Sandi, akan dibiayai oleh International Finance Coorporation (IFC) yang merupakan anggota kelompok World Bank.

"Alhamdulillah kami sudah dapatkan komitmen dari World Bank melalui IFC dan pendanaan baik yang konvensional maupun yang berkaitan dengan green energy," imbuhnya.

Selain di Sunter, pihaknya juga berencana membangun fasilitas pengolahan sampah di tiga lokasi lain yakni di Marunda Jakarta Utara, Kosambi Jakarta Barat, dan Jakarta Timur. Sandi meyakini pembangunan ITF ini akan membuka ribuan lapangan kerja baru selama proses konstruksi hingga selesai. Ia menargetkan pembangunan ini dapat selesai pada 2021.


"Kita melihat ini sungguh-sungguh dapat menghasilkan total 7.000 lapangan kerja baru," katanya.

Masalah sampah di Indonesia khususnya DKI Jakarta merupakan masalah yang sangat serius. Volume sampah di DKI Jakarta menurut data 2017, mencapai 6.000 - 7.000 ton per hari. Volume sampah tersebut sangat besar dibanding kota kota besar di Eropa yang hanya menghasilkan sampah sebesar 1.500 - 2.000 ton per hari.

[Gambas:Video CNN]