Jokowi Kembali Tegaskan Dirinya Bukan Kader PKI

Wishnugroho Akbar, CNN Indonesia | Senin, 21/05/2018 13:16 WIB
Jokowi Kembali Tegaskan Dirinya Bukan Kader PKI Presiden Jokowi kembali menegaskan bahwa dirinya bukan kader atau anggota PKI. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo kembali menegaskan dirinya bukan anggota atau kader Partai Komunis Indonesia, bukan pula anak dari orang tua PKI dan bukan anak pengusaha China Singapura seperti isu yang selama ini diembuskan sejumlah pihak.

"Perlu saya tanggapi isu yang belakangan banyak mengatakan saya PKI. Kalau isu seperti itu dibiarkan dan tidak saya jelaskan maka akan ke mana-mana," kata Presiden Joko Widodo saat meresmikan kereta Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Padang, Senin (21/5), seperti dikutip dari Antara.

Presiden menyampaikan penegasan itu sesaat sebelum mengakhiri pidato peresmian Kereta BIM. Turut hadir dalam acara itu Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat Basuki Hadimulyono, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno.


Presiden kembali menegaskan bahwa dirinya lahir tahun 1961, sementara peristiwa yang melibatkan PKI terjadi pada 1965. 

"Jadi mana mungkin balita ikut PKI," katanya.

Meski sudah dijelaskan di beberapa kesempatan, kata Presiden, isu PKI terus bergulir. Hanya saja, yang menjadi target selanjutnya adalah orang tuanya.

Jokowi lantas mempersilakan masyarakat mengecek kebenaran isu itu ke sejumlah ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

"Silakan cek dan tanyakan kebenaran isu itu ke sejumlah ormas Islam yang banyak di Solo," kata Presiden.

Jokowi juga menyoroti isu lain yang menyebut dirinya anak pengusaha China-Singapura. Dia menyebut bapaknya berasal dari Karanganyar dan ibunya dari Boyolali.

"Saya itu anak kampung," kata Presiden.

Presiden dalam kesempatan itu lantas mengajak semua elemen bangsa untuk selalu berpikiran positif dan menjauhkan diri dari hal negatif.

Jokowi juga meminta masyarakat tidak mudah terpengaruh dan berprasangka buruk atau negatif.

"Sebaiknya kita memikirkan hal yang produktif untuk membangun bangsa dan negara, seperti memikirkan bangun infrastruktur," ujar Jokowi.

Ini bukan pertama kali Jokowi mengklarifikasi isu PKI. Pada Maret lalu, Jokowi juga menyatakan dirinya tak terkait PKI dan saat PKI dibubarkan dirinya masih balita.

"Memangnya ada PKI balita? Fitnah ini ngawur," kata Jokowi disela-sela acara pembagian sertifikat tanah di Kabupaten Bogor, Jawa arat, Selasa (6/3).

Sementara pada 1 Oktober lalu, Jokowi menegaskan tak akan memberik ruang bagi PKI untuk bangkit di Indonesia.

"Jangan beri ruang kepada ideologi lain yang bertentangan dengan Pancasila. Apalagi memberi ruang kepada PKI. Tidak," ujar Jokowi usai upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Kompleks Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur, Minggu (1/10).

Jokowi juga mempertegas posisi pemerintah terhadap isu kebangkitan PKI yang beredar belakangan ini. Ia menegaskan untuk hal tersebut pemerintah tetap menjalankan amanat Tap MPRS Nomor 25 tahun 1966 tentang Pelarangan Keberadaan PKI.

"Jelas sekali. Saya kira tidak perlu saya ulang-ulang," katanya. 

Sementara itu Ketua Umum PPP Romarhumuziy menyebut isu PKI yang menyerang Jokowi pertama kali muncul sejak terbitnya tabloid Obor Rakyat pada Pilpres 2014 silam.

Saat itu Romy menyampaikan kepada Ketua Alkhairaat, Habib Sayid Saggaf Muhammad Al Jufri tentang rencana salah satu oknum pendukung pasangan Prabowo-Hatta Rajasa untuk membuat tabloid Obor Rakyat.

Prabowo-Hatta adalah lawan Jokowi-JK di Pilpres 2014. Kata Romy, tabloid itu sengaja dibuat untuk memuat tulisan yang menyebut Jokowi sebagai keturunan Tionghoa dan PKI.

"Saya sempat diminta mengoreksi tabloid itu, tapi saya menolak karena ini fitnah. Kalau Pak Prabowo enggak menang, kita bakal dapat masalah, kalau menang ya bisa saja ditutup kasus hukumnya," ujar Romy di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (13/4).