Seorang Anak Pelaku Bom Surabaya Disebut Trauma Berat

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Kamis, 24/05/2018 05:30 WIB
Seorang Anak Pelaku Bom Surabaya Disebut Trauma Berat Menurut perwakilan tim LPSK yang menjenguk, anak itu sangat sulit diajak berkomunikasi karena dampak kejadian merenggut nyawa orang tuanya. (CNN Indonesia/Galih Gumelar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Insiden serangan bom di Kota Surabaya, Jawa Timur, menimbulkan dampak berkepanjangan. Konon seorang anak pelaku bom bunuh diri itu saat ini mengalami trauma berat hingga kesulitan diajak bicara.

"Yang kami lihat kondisi psikologis anak-anak korban itu yang orang tuanya pelaku, ada satu yang serius ya traumanya. Dia tidak bisa diajak berkomunikasi," kata Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Hasto Atmojo Suroyo, kepada awak media dalam jumpa pers di Kantor LPSK, Jakarta, Rabu (23/5).

Namun demikian, Hasto menyatakan tidak semua anak pelaku mengalami kondisi yang sama. Menurut dia beberapa memang mengalami trauma, tetapi dengan tingkat lebih ringan dan ada juga yang tabah menghadapi kejadian itu.



"Ada beberapa yang sangat ringan sehingga tidak terlalu bermasalah kondisi psikologisnya ya," ujarnya.

Buat mengantisipasi perundungan terhadap anak-anak ini di masa mendatang, LPSK meminta supaya mereka dipindahkan sementara dan identitasnya disamarkan, sehingga mereka bisa bertumbuh dan berkembang optimal. Sebab menurut Hasto, anak-anak ini adalah korban.

"Anak-anak pelaku ini harus tetap ditetapkan sebagai korban, bukan sebagai pelaku. Karena mereka bukan hanya korban terhadap insiden ini saja, tetapi juga sejak dalam asuhan yang keliru oleh orang tuanya," ujar Hasto.

Ketika anak-anak ini dimintai keterangan sebagai saksi, LPSK berjanji akan menyediakan perlindungan pada mereka.


"Dia akan dimintai keterangan mengenai pergaulannya dengan orang tuanya, pola pengasuhannya, dan apakah juga mengetahui tindakan orang tuanya, LPSK akan menyediakan dan wajib melindungi mereka," kata Hasto.

Menurut LPSK, anak-anak itu saat ini masih dalam perlindungan Polda Jawa Timur sampai dilakukan rehabilitasi kejiwaan. Nantinya Kapolda Jatim akan memilih dan mengizinkan wali bertanggung jawab atas anak-anak yang kehilangan orang tuanya ini.

"Kita sebagai institusi yang ikut berkaitan dalam kasus ini akan memberikan masukan pada Kapolda kira-kira pengasuhan seperti apa dan kepada siapa anak-anak ini akan diampu," ujar Hasto. (ayp/gil)