Kepala Bidang Sarana dan Prasarana DLH DKI Jakarta Hari Nugroho membenarkan anggaran tersebut, namun ia membantah ada markup atau penggelembungan dana anggaran tong sampah Jerman.
"Kita sebelum beli sudah melakukan justifikasi harga. Enggak ada (markup), kita beli di Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) langsung, di e-katalog. Bahkan kalau bisa ditawar, kita tawar," kata Hari saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (4/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hari mengatakan Pemprov DKI Jakarta telah mengimpor tong sampah beroda merek Weber itu sejak 2017.
Dalam keterangan tertulis, Kepala DLH DKI Jakarta Isnawa Adji menjelaskan pihaknya memilih impor dari Jerman karena di e-katalog LKPP tak tersedia produk dalam negeri.
Adji menyebut tong sampah beroda Weber dipilih karena PT Groen Indonesia telah memiliki banyak workshop di beberapa kota di Indonesia.
"Kami tidak mendapati produk lokal di katalog dan di pasaran untuk produk jenis ini, hanya ada produk China dan Jerman. Setelah melakukan pertimbangan secara teknis, kami pilih produk Jerman dengan pertimbangan kualitas," tuturnya.
Dia mengklaim pengadaan ini untuk memodernisasi pengelolaan sampah di Ibu Kota agar lebih efisien. Nantinya, tong sampah beroda akan diletakkan di TPS-TPS yang ada.
"Ketika jadwal pengangkutan garbage bin, petugas dapat mendorong bin beroda ini ke lokasi truk compactor dan mengaitkan ke kait hidroliknya, maka sampah akan terangkat ke dalam truk compactor. Persis seperti di negara-negara maju," tulisnya. (wis)