Salat Id, Khotib Singgung Pemimpin Zalim & Pengkotakan Ulama

Mesha Mediani, CNN Indonesia | Jumat, 15/06/2018 10:36 WIB
Salat Id, Khotib Singgung Pemimpin Zalim & Pengkotakan Ulama Masjid Baiturrahman, Tebet, Jakarta Selatan. (Foto: CNN Indonesia/Mesha Mediani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Khotbah di Masjid Baiturrahman, Tebet, Jakarta Selatan pada gelaran salat Idulfitri, Jumat (15/6) pagi tadi menyinggung soal pemimpin zalim dan pengkotakan ulama.

Bertindak sebagai khatib, Muhammad Utsman menegaskan bahwa umat Muslim harus senantiasa menaati dan memuliakan ulama sebagaimana perintah Rasulullah SAW.

Dalam ceramahnya, Utsman menyebut Allah SWT akan menurunkan bencana bagi mereka yang tidak menjadikan ulama bagian dari hidupnya.
"Orang-orang yang lari dari ulama, maka orang-orang itu akan diturunkan oleh Allah SWT, pemimpin yang zalim. Pemimpin yang aniaya. Pemimpin yang hanya memikirkan diri dan kelompoknya," kata Utsman.


Menurut Utsman, umat Muslim saat ini tidak memperlakukan ulama dengan baik.

"Disebabkan karena kita jahat pada ulama. Orang banyak (tidak) taat pada ulama, sehingga Allah SWT menurunkan pemimpin yang jelek. Pemimpin yang jahat, yang zalim, yang aniaya," ujarnya.
Utsman pun menyinggung sikap pemerintah melalui Kementerian Agama yang mengeluarkan rekomendasi 200 nama mubalig untuk berceramah. Meski mubalig yang namanya tidak tercantum dalam rekomendasi tetap boleh berceramah, Utsman menilai sikap pemerintah diskriminatif.

"Meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT, kepada Rasulullah SAW dengan cara menghormati dan mendekati ulama. Jangan ulama dikotak-kotakkan ada 200 ulama yang boleh dipanggil untuk menjadi penceramah dan penasehat, selainnya tidak. Nauzubillah," kata Utsman.

Rasulullah SAW, kata Utsman, memerintahkan umat Muslim untuk memuliakan ulama karena ulama adalah warisan para nabi. Pasalnya, ulama dinilai sebagai sosok yang paling mengerti tentang kitab Allah SWT dan sunnah Rasulullah SAW.
Orang yang memuliakan ulama, lanjut Usman mengutip Rasulullah SAW niscaya akan dimuliakan pula oleh Allah SWT.

"Lantas, siapa yang harus kita jadikan pemimpin? Sudah barang tentu ulama yang harus kita jadikan pemimpin. Atau orang-orang yang dekat pada ulama," ujarnya. (age/age)