"Lebih hebat dukun saya kira dari lembaga survei," ujar Fadli di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (29/6).
Fadli menuturkan keberadaan lembaga survei harus dievaluasi oleh pihak terkait. Selain sangat tidak akurat, Fadli menilai lembaga survei berpotensi menyebarkan berita palsu berkenaan dengan hasil sebuah pemilu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika hal demikian diabaikan, Fadli merasa lembaga survei juga bisa menjadi alat politik bagi pihak berkepentingan dalam setiap gelaran pemilu.
Ia berkata tidak ada lembaga survei yang berhasil memprediksi hasil Pilkada serentak 2018.
Dua contoh daerah yang tidak sesuai dengan prediksi lembaga survei adalah Pilkada Jabar dan Jateng.
Survei SMRC sebelum pencoblosan, misalnya, memprediksi pasangan Sudrajat-Syaikhu hanya meraih 7,9 persen suara saja. Nyatanya, berdasarkan hitung riil KPU per Jumat, pukul 09.19 WIB, Sudrajat-Syaikhu berhasil meraih 28,33 persen atau 5.676.863 suara.
Mereka terpaut tipis dari pasangan Ridwan Kamil-Uu yang berada di posisi teratas dengan raihan suara 33,22 persen atau 6.656.712 suara. Hitung riil KPU tersebut berasal dari 91,08 persen suara yang masuk. (wis/sur)