"Jumlah kendaraan yang ditargetkan 2.687 unit, sekarang jumlahnya tidak sampai seratus unit. Jadi ini presentasenya masih sangat rendah dan kita akan terus genjot," kata Sandi di Balai Kota Jakarta, Kamis (5/7).
Untuk program andalan Anies-Sandi ini, Pemprov DKI telah menganggarkan pengadaan 2.685 bus kecil senilai Rp3,3 triliun pada APBD 2018. Namun sejak April lalu, baru ada 126 bus kecil yang mampu disediakan Pemprov DKI Jakarta. Artinya, baru 4,7 persen target yang tercapai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masalah lainnya, ucap Sandi, Pemprov DKI Jakarta belum berhasil menarik para operator angkutan umum untuk bergabung di OK Otrip. Para operator belum menyetujui tawaran harga yang harus dibayar Pemprov DKI Jakarta setiap kilometer.
"Pak Anies sudah menugaskan akhir bulan ini, Juli, harus semua bergabung, operator bergabung, atau mayoritas sudah bergabung. Dan kita ingin target akhir tahun ini bisa tercapai," lanjut Sandi.
"Fraksi Partai Golkar mempertanyakan OK Otrip bus kecil yang hingga saat ini baru mencapai 126 unit selama uji coba tiba bulan, sejak April hingga Juni," kata anggota Fraksi Golkar Tandanan Daulay dalam Rapat Paripurna di gedung DPRD DKI, Jakarta, kemarin.
OK Otrip sendiri merupakan gagasan Anies-Sandi untuk menyiasati tingginya biaya transportasi di Jakarta. Dengan satu kartu khusus, warga Jakarta bisa menggunakam tiga moda transportasi berbeda dengan Rp5 ribu. Batas waktu tiap kali tap maksimal tiga jam. (ayp/gil)