Syafruddin Ajak Istri Bos Gajah Tunggal Rapat Bahas SKL BLBI

Feri Agus, CNN Indonesia | Jumat, 13/07/2018 04:33 WIB
Syafruddin Ajak Istri Bos Gajah Tunggal Rapat Bahas SKL BLBI Salah satu saksi sidang mengakui terdakwa Syafruddin Tumenggung pernah mengundang istri Bos Gajah Tunggal Sjamsul Nursalim, Itjih Nursalim dalam rapat pembahasan SKL BLBI. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arsyad Temenggung disebut pernah mengundang Itjih Nursalim, istri bos PT Gajah Tunggal Tbk sekaligus pemegang saham Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) Sjamsul Nursalim, dalam rapat yang digelar pada 21 dan 29 Oktober 2003.

Rapat yang dimaksud membahas penyelesaian terkait dengan permasalahan utang petambak PT Dipasena Citra Darmadja (PT DCD) kepada BDNI.

Hal tersebut disampaikan mantan Deputi Ketua Aset Manajemen Kredit (AMK) Mohammad Syahrial saat bersaksi untuk terdakwa korupsi penerbitan Surat Keterangan Lunas (SKL) Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), Syafruddin di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (12/7).


Awalnya Syarial tak menjawab lugas mengenai kehadiran Itjih dalam rapat tersebut. Jaksa penuntut umum KPK lantas membacakan jawaban Syahrial dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) nomor 105.

"Saksi menjawab, dapat saya jelaskan kehadiran Itjih Nursalim mewakili pihak Sjamsul Nursalim dalam pada 21 Oktober dan 29 Oktober 2003 adalah atas permintaan ketua BPPN melalui Deputi Ketua AMI. Ini jawaban saksi?" kata jaksa penuntut KPK.

Syahrial baru mengakui bila Itjih hadir atas undangan Syafruddin setelah jaksa membacakan BAP.

"Betul pak. Karena memang hanya bisa yang punya kewenangan ketua dan deputi AMI," jawab Syahrial.

Namun, Syarial yang juga mantan Direktur Utama PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) itu tak mengetahui secara pasti alasan Syafruddin mengundang istri Bos PT Gajah Tunggal Tbk itu dalam rapat penyelesaian kewajiban pelunasan BLBI.

"Kalau ini yang dipanggil seluruh deputi, kalau panggil seluruh deputi harus ada arahan dari Ketua. Jadi misalnya unit kerja dari AMI mengundang Itjih Nursalim," ujarnya.

Dalam rapat itu, Syahrial menyebut salah satu hal yang disampaikan Syafruddin adalah memerintahkan agar kredit petani tambak PT Dipasena dan PT Wachyuni Mandira (WM) tak dibebankan kepasa Sjamsul, selaku pemegang saham BDNI saat itu.

"Secara dokumen mengatakan demikian pak, tapi saya tidak tahu yang melatarbelakangi keputusan-keputusan AMI," kata Syahrial.

Dalam perkara ini, Syafruddin didakwa merugikan negara hingga Rp4,58 triliun lantaran menerbitkan SKL BLBI kepada Sjamsul pada 2004 silam. Ia didakwa melakukan korupsi bersama-sama dengan Dorodjatun, Sjamsul, dan istrinya Itjih Nursalim.

Syafruddin diduga telah melakukan penghapusan piutang BDNI kepada petani tambak yang dijamin oleh PT Dipasena Citra Darmadja (PT DCD) dan PT Wachyuni Mandira (PT WM). Selain itu, Syafruddin disebut telah menerbitkan Surat Pemenuhan Kewajiban Pemegang Saham BDNI. (osc/osc)


BACA JUGA