Cerita Kepala Dinas DKI Dicopot Anies Tanpa Pemberitahuan

Dhio Faiz, CNN Indonesia | Selasa, 17/07/2018 17:30 WIB
Seorang kepala dinas baru tahu jabatannya dicopot Anies saat diminta hadir dalam rapat pengarahan --yang ternyata upacara pelantikan pejabat baru. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat bersilaturahim dengan anak buahnya. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pencopotan empat wali kota dan sejumlah kepala dinas oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada 5 Juli 2018 kini dipermasalahkan. Penyebabnya ada dugaan Anies melanggar aturan saat mengganti para abdi negara itu.

Seorang mantan kepala dinas menceritakan kisah pencopotannya oleh Anies. Ia mengaku tak diberi tahu sama sekali oleh Anies maupun jajarannya jika bakal diganti. Bahkan ia masih melaksanakan hajatan besar DKI Jakarta di hari-hari terakhir sebelum pencopotan.

Sang mantan kepala dinas itu mengaku hanya mendapat undangan untuk mendengarkan arahan Anies di Balai Kota pada 12 Juli pukul 12.00 WIB. Pada saat yang bersamaan ternyata ada pelantikan sejumlah wali kota dan kepala dinas.
"Begitu sampai sana, saya disetop, 'Mohon maaf Bu, yang dicopot pengarahannya ditunda besok.' Saya enggak boleh masuk. 'Loh, memang saya dicopot?' Saya tanya begitu," ucap mantan kepala dinas yang enggan disebut namanya saat dihubungi, Selasa (17/7).


Kepalang tanggung, sang kepala dinas itu tidak punya pilihan lain. Ia akhirnya tetap mengunjungi Balai Agung di Balai Kota Jakarta untuk menyaksikan pelantikan sejumlah pejabat DKI.

Dia baru tahu dan yakin dicopot setelah dihubungi oleh sekretaris dinas yang didapuk Anies menjadi pelaksana tugas.

"Pas perjalanan pulang, saya ditelepon sama sekdis saya, 'Bu, saya ditunjuk sebagai PLT Ibu.' Loh saya enggak tahu mau dicopot, kok kamu ditunjuk sebagai PLT," imbuhnya.
Ia mengatakan selama ini tak pernah punya masalah dengan Anies, atau kesalahan apapun. Ia juga menyebut hingga kini tak ada kejelasan soal surat keputusan pencopotan dan arahan selanjutnya.

Saat ini sang kepala dinas menghabiskan waktu dengan berdiam diri di rumah, sembari menunggu masa pensiun pada 1 Oktober mendatang. Sampai sekarang dia mengaku belum dihubungi, ditemui, dan diberi arahan seperti yang dijanjikan Anies.

"Dalam undang-undang tidak boleh distafkan tanpa bukti kesalahan. Mungkin sekarang lagi dicari bukti kesalahannya. Tapi kan kalau salah harus ada prosedurnya, harus dipanggil dan ada BAP," ucapnya sedikit menyindir.
Anies memang diam-diam mencopot sekitar 16 pejabat. Komisi ASN menduga ada pelanggaran dalam perombakan jabatan itu. Maka dari itu Komisi ASN sedang memeriksa 16 pejabat untuk menelaah dugaan tersebut.

"Ya memang kami selesaikan dalam proses. Kami minta keterangan, klarifikasi kedua belah pihak," kata Asisten Komisioner Komisi ASN Sumardi. (ayp)