Menurutnya, secara historis, hari dengan udara buruk di Jakarta tidak sampai lebih dari 20 hari dalam satu tahun. Itu diketahui dengan menggunakan metode yang digunakan oleh KLHK.
Siti menyebut metode KLHK dalam mengukur kualitas udara di Jakarta adalah lewat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP 45/MENLH/1997.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jakarta menyandang status salah satu kota paling berpolusi versi pemantau kualitas udara dari Amerika Serikat, Air Visual pada 24 Juli.
Karena perbedaan metode ini, rencananya Siti akan memanggil pihak yang melakukan penelitian itu untuk meminta penjelasan secara detail. Hanya saja, ia tak menyebutkan kapan pertemuan itu akan berlangsung.
"Itu saya sudah berkali-kali minta eselon I dan II untuk panggil Greenpeace atau panggil orang-orang yang bilang udara itu jelek dan lain-lain. Itu, kan, ada cara mengukur, ada yang menghitung konsentrasi partikel P10 dan ada juga P25," jelas dia.
"Biasanya kalau ada data yang dispute itu saya panggil orangnya dan saya cek metodenya apa, serta datanya apa, ngambilnya kapan. Menurut saya sih data itu tidak betul," ujar Siti. (wis)